Meski ini terdengar terlalu berlebihan.
Kehilangan sepertinya menjadi momok yang menakutkan. Maka ketika seseorang- yang bahkan kuragukan perasaannya- yang hadir meski tak utuh dan akhirnya akan meninggalkanku nanti - mungkin-, rasanya aku merasa hancur. Seperti sebuah fobia akan sesuatu, merasakan ditinggalkan oleh sesuatu atau seseorang membuatku sangat hancur dan sedih. Sehingga, secara berlebihan ini semua terlalu dibesar-besarkan.
Merujuk pada saran seorang temanku, untuk tetap fokus pada kualitas hidupku dulu. Bukan terlalu ngoyo mencari pendamping. dan katanya (yang membuatku terkikik kadang) berkerudung bukan untuk mencari jodoh, apa pula itu.
Membahas tentang berhijab sedikit. Setelah bergelut dengan hatiku selama sekitar 20 tahunan hidupku di dunia ini. Aku akhirnya mengalah pada hatiku (dengan tidak meninggakan otakku tentu) untuk menutup hijabku, meski itu masih belum sempurna. Tetapi suatu saat, mungkin langkah ini akan menanjak ke atas, kembali pada jalan Tuhan yang aku yakini. Bukan arus dunia yang terus berubah dan mengaburkan. Aku terus mencari ke dalam diriku apa yang bisa membuatku damai. Meski hijab ini sudah menyemat dalam kepalaku. Tapi tidak serta merta efek itu terasa, yang paling aku rasakan adalah aku merasa lebih menjaga hati dan diri. Semoga Tuhan dan alam ini menjaga aku. Demi Tuhan, ini barulah awal. Ber-Hijab.
Kembali pada pembahasan Saturday Noon, tentang seseorang yang hadir dalam diriku. Anno, sahabat baikku, mengatakan aku hanya perlu bersabar, memusatkan hatiku untuk pekerjaanku, mendekatkan diri pada Tuhanku, Allah SWT, dan tidak membiarkanku berlarut-larut pada cinta sesaat, hubungan yang menyakitkan, orang-orang yang membuatku merasa lelah.
Dia pun menyampaikan padaku, untuk bersabar menanti seseorang yang membuatku untuk mau hidup. Ya, benar sekali, menemukan seseorang yang dapat membangkitkan semangat hidup setiap harinya, memberikan inspirasi untuk bangun di pagi hari, bersemangat untuk menanti sore, tanpa harus menunggu harapan-harapan kosong darinya, Seseorang yang memberikan lembayung bahkan setelah hujan yang dilalui. Memberikan kehangatan pagi dan menyejukan seperti hawa subuh sebelum pagi. Dia mengatakan untuk aku bersabar tanpa harus terburu-buru menganggap orang-orang yang datang mungkin orang yang aku cari, padahal mungkin itu hanya euforia akan penantian, bukan sebuah core dari apa yang aku cari.
Tapi itu terkadang sulit, karena ketika aku tidak mengacuhkannya dan nantinya mereka menyerah dan meninggalkanku, meski hati ini tidak sepenuhnya aku berikan pada mereka, tetapi perasaan ditinggalkan yang menjadi fobia baruku ini akan menyerang. Penyakit Psikosomatisku akan kambuh, dan, percayalah, itu melelahkan, sangat melelahkan, ketika napsu makan menjadi hilang, lidahku menjadi kelu, kerongkonganku menjadi gersang, meski berliter-liter air telah kutenggak. dan ketika pikiran menjadi teralihkan dan terpusat hanya ingin menikmati icep-icep. Itu memuakan. Percayalah.
Bahwa wanita Indonesia yang memang tinggal di Indonesia ini harus menjaga tradisi turun temurun yang terimplementasikan dalam tindak tanduknya. Bahwa batasan itu dimana-mana hasil percampuran budaya timur dan tentu yang tidak terelakan aturan agama. Ini menjadi suatu kegilaan.
Membaca buku kajian budaya feminis milik aquarini (yang diberikan seseorang dari masalaluku) bahwa wanita indonesia selalu terbentur berbagai hal mengenai tradisi dan budaya ketimuran, menyadarkanku bahwa lelah itu bukan milikku saja. Bahwa amarah itu ada mungkin dalam beberapa hati para wanita. Bahwa wanita ingin diterima sebagai manusia yang tidak sempurna, bukan wanita sempurna dengan setumpuk kesabaran dan ketabahannnya, sehingga lupa bahwa wanita yang manusia ini juga perlu untuk menangis dan meradang.
Aku seharusnya tidak perlu lari dari kenyataan, bahwa teman-temanku mungkin akan segera meninggalkanku dalam pernikahan mereka, dalam kesuksesan karier mereka, dalam hubungan yang sudah kuat dengan pasangan-pasangannya, dalam penemuan mereka akan sebuah lembaran masa depan. Aku harusnya menemukan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, menggandeng diri sendiri, berjalan perlahan pada satu titik di depan. Meski titik itu belum bisa aku lihat.
Jika seseorang meninggalkanku, seharusnya aku meyakinkan diriku bahwa akan ada yang datang lagi. Lalu, jika aku bisa menyadari ini mengapa aku masih tidak bisa menghilangkan trauma akan kehilangan, Fobia feeling abandoned. Bahwa menangis merasa sakit itu alami dan akan terjadi terus hingga mati. Lalu mengapa ada ketakutan berlebih dalam diriku? Cinta itu akan datang dalam bentuk apapun, ah, tidak, cinta itu sudah ada dalam hatiku terhadap hidupku. Aku hanya perlu menyadari itu.
Hujan turun di kota besar ini, hawa panas masih terasa meski berkurang. Aku merindukan sebuah kota dengan pelangi, seseorang akan membawaku pada kota itu, seseorang akan datang padaku dan merangkul aku pada tempat yang aman, menyandarkanku dalam kenyamanan, merendam kekhawatiranku akan segala hal. Seseorang itu seharusnya ada, Tuhan telah menciptkannya, aku hanya perlu.... Menemukannya.
Saturday Afternoon, membuatku semakin sadar, ini panggilan dari nurita kecil, gadis 10 tahun yang penuh khayalan, introvert, tenggelam dalam buku dan komik, tergila-gila akan menulis, dan aku tahu aku ingin jadi apa, sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis di tengah budaya modern dan kerumitan dunia. Meski intelektual tak seberapa, tapi menurut rene suhardono, penulis your job is not your career, bahwa passion itu is not what you're good at but what you enjoy the most.
And guess what, thanks to people who always support me to back to 'my earth' dan menyadarkankan aku menulis adalah duniaku, aku tidak perlu memaksakan diri untuk bertarung dalam medan perang yang salah. Paling tidak ke depannya. karena realita akan materi needed yang cukup tinggi.
Aku terus belajar untuk paling tidak mendekati itu dan mewujudkannya, sebelum nafas benar-benar habis.
Lalu untuk penemuan akan seseorang?
Hahahaha.... We'll see. we are not going to end this story too soon, right?
Enjoy it...
_Thanks For reading_
Je'
Stumble upon your blog. Baru baca beberapa postingan aja sih. I don't know what you been through but reading your story and thought, I would like to say Good luck. Congratz with the hijab. Cheers!!
ReplyDeletethanks so much.. good luck to you too.. :)
ReplyDelete