Monday, April 7, 2014

Almost ...

Almost there almost...

But sometimes tired is all you can find....
Now you will see ... Life is never easier day by day....
God give me a reason to alive ...
I never though that im stronger than i ever knew before....
Im broke again and again but still alive
That's never be easy and i can through this.. I can but im tired....
There's no other way or choice or heroes...i have to be a hero for myself....

_justwordssaying_

Oo Allah save me save from this world.
I cant bear anymore...please, i cant
White flag... This is the soul for you....

Thursday, September 5, 2013

Hari Ini, Pak Soeharto...

Hari ini saya nonton tv....
horeee.. akhirnya merasa nyaman nonton tv, meski sejenak saya melepas kekhawatiran-khawatiran  saya akan peke
rjaan saya. Jangan salah kira, ini bukan dedikasi tinggi terhadap perusahaan. Ini merupakan ego saya untuk menjadi perfect, dengan indikator keberhasilan versi saya sendiri.

Oke, kembali pada acara tv tersebut...
Malam ini, Saya menonton stasiun tv yang mengangkat tema sisi historikal dari sosok Soeharto (kira-kira begitu tema yang saya tangkap). Terus terang saya memang tidak terlalu mendalami politik dan tidak menyukai sejarah, tapi sedikit banyak saya memahami situasi negeri ini, paling tidak secara logika saya yang tidak terlalu wah ini. Saya juga bukan pengagum para tokoh negara, semua biasa aja. Mungkin agak lebih nilainya untuk Pak Soeharto. wajar saja, saya lahir pada masa jayanya menguasai negeri ini.
Dimana tarif bus kota 50 perak. indomie paling mahal 500 perak (itu udah saya bilang mahal). uang jajan saya itu ya 100 perak waktu SD udah bisa beli macem2, terkadang ya kembalian 50 perak, saya tabung (hobi memang itu nabung hahaha...). Beliau sih memang saya rasa korupsi. Hey, What you expect dengan kekuasaan tanpa batas dengan lama jabatan yang panjang dan selalu diangkat lagi diangkat lagi sampai akhirnya -saya ingat banget- pas mau lulus SD ada momentum sejarah yang dikatakan orang "REFORMASI"

Keren itu nama, swear, serius, deh... untuk anak umur 10 taunan lebih kata REFORMASI itu sangat keren. COOL!
Saya dulu tidak begitu keep in touch sama google,yang saya tangkap reformasi itu ya PERUBAHAN itu. perubahan ya pekerjaan saya sekarang sebagai konsultan perubahan (yang mana effort nya sama project agak nyaru, ini dibahas belakangan). Perubahan itu ya, bagi saya kehancuran kerajaan Cendana, means, Pa Soeharto secara legowo atauuu.. secara terpaksa turun tahta digantikan Bapak BJ Habibie yang semula wakil presiden mendampinginya. entah menggunakan dasar hukum apa pak Soeharto memilih mengambil resiko dengan mengangkat Pak Habibie sebagai presiden langsung tanpa pemilihan ketimbang membiarkan kursi itu kosong dan siap diperebutkan oleh banyak pihak. Bagi saya, perubahan itu sekarang lebih pada unfinished restructured, perubahan yang ngga beres-beres. Macam amatiran yang sedang membangun negeri tapi kehilangan fokus di tengah jalan jadi membangung kerajaan masing-masing.
Jadi, ceritanya, ada sebuah gerakan Panitia45 yang mengajukan Nama Soeharto sebagai nama jalan, setelah sebelumnya sudah disepakati nama Soekarno-Hatta, yang tanpanya kita katanya tidak akan merdeka secara de facto dan de juro- akan menjadi nama jalan di salah satu jalan ibu kota. Pengajuan itu pun jelas-jelas ditolak kebanyakan aktifis, dengan alasan Bapak Soeharto merupakan koruptor besar di Indonesia dan katanya dunia dengan peradilan yang tidak selesai karena beliau sudah keburu meninggal.
Yang membuat gusar adalah bukan karena tidak jadinya tokoh semasa kecil saya menjadi nama jalan, bagi saya nama jalan itu tidak penting sama sekali, toh, di pikiran saya Bapak Soekarno dan Ibu Tien adalah presiden dan istri presiden yang paling melekat di sejarah kehidupan saya sejak kecil , tokoh super yang saya banggakan setelah kakek saya, tidak perlu lah pengakuan dunia atas itu dengan dijadikan nama jalan atau ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pengakuan-pengakuan itu hanya sebuah tulisan belaka tanpa arti apapun, toh, ketika saya nanti punya anak saya akan menceritakan betapa dulu Indonesia lebih terkendali dari jaman reformasi sekarang. Yang membuat gusar saya adalah pandangan yang tidak duduk sama rata, tidak sejajar, not align, bahwa mantan presiden soeharto ini yang paling belangsak, koruptor kakap, tokoh dibalik pembantaian 3000 jiwa, dan lain dan lain dan lain sebagainya....
Bagaimana para aktifis itu segitu giatnya menguak cacatnya masa Soeharto tapi seolah membiarkan Soekarno pula. Sama hartanya masih banyak sekarang. I mean, Soekarno-Hatta memang Proklamator, gagah sekali mereka membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Nama mereka segera menjadi nama jalan, lalu bukan berarti mereka dulu tidak melakukan blunder atas nama negara, bukan? Ini hanya sebuah nama jalan, katakan lah dia korupsi, audit lah seluruh keuangan anak cucu buyutnya hingga selir-selir anak-anaknya itu, bukan menjegal penamaan jalan seolah-olah Soeharto tidak pernah punya arti dan andil apapun terhadap negara ini. Jalan-jalan layang yang mereka (para aktifis kaya) dengan mobil-mobil mewah mereka itu adalah jalan yang diciptakan pada masa orde baru. Taman Mini yang luas yang dulu ditentang kini menjadi kebanggaan Indonesia ketika orang asing bertamu ke negeri ini dan mengunjunginya.
Tanpa Bapak pembangunan itu dianggap ikon korupsi, negara ini ya korupsi-korupsi juga. Lebih massive pula sekarang gerakan korupsinya, tanpa malu, saling serang, saling lempar bola panas, saling tuding. Tidak perlu bahas yang tinggi-tinggi bahkan untuk level terendah dalam organisasi masyarakat saja, ketua RT bisa lenggang korupsi kas warga.
Panjang lebar dan intinya, over reacting terhadap budaya korupsi yang terlanjur menjadi di negeri ini jangan menyamarkan nilai-nilai positif dari orang-orang yang sedikit banyak telah memberikan perubahan secara nyata infrastruktur dan juga ide-ide ideal kehidupan. setiap pemimpin punya gaya masing-masing, terlepas dari keidealan seorang pemimpin. Soekarno yang diplomatis, hebat dalam melobby, Soeharto yang otoriter, sangat jago menekan lawan, tackle hero, Habibie yang cerdas, pemikiran tajam, dan visioner (sehingga pemikir2 lelet Indonesia tidak bisa menangkap visi dan misi besar Habiebie), dan yang terakhir yang agak cengeng dan sangat drama (sesuai dengan karakteristik bangsa indonesia sekarang dan terutama generasi muda sekarang), drama nya drama korea malah mendayuu-dayuu saranghaeyo banget... Dialah Bapak SBY,
semendayu-mendayunya Bapak Presiden ini , tho, terlepas beliau juga korupsi atau tidak, paling tidak...mmmm... bingung,,,,, stuck,,, paling tidak apa ya,,,,,,program kerjanya yang paling sounding ya, Gerakan Anti Korupsi, yang para tokoh di kampanye nya sekarang banyak yang masuk bui juga sih....mungkin ngga bisa jadi nama jalan juga ya, pak, 10 tahun ke depan. :D

Bagi saya negara ini seperti lelucon. Sebagian berjuang untuk negerinya, sebagian berjuang untuk komunitasnya, sebagian lagi malah bingung mau berjuang atau hanya nonton saja. Saya mungkin termasuk yang bingung, atau mungkin saya termasuk yang berjalan perlahan menuju perubahan. Korupsi memang jadi budaya, tapi ada saatnya mungkin orang akan jengah, dan roda memang berputar, optimis saja.

Yang jelas berubah tidak perlu dimulai dari yang kecil-kecil saja. Jika bisa melakukan langkah besar maka lakukan langkah besar, tapi.... kalau sanggupnya langkah kecil ya langkah kecil aja. Kalau mau jadi super hero kesiangan dengan jadi aktifis demo atau aktifis yang lain-lain itu ya, monggo, tapi yang pasti jangan ujung-ujungnya malah memecah belah negara, sih, ya, bergerak cepat bagus, tapi serampangan bisa blunder.
kalau belum punya pemikiran secara meluas, mending jadi pegawai yang baik di jalan Soedirman situ, ngga pake kesiangan karena macet-macetan sama mobil bagusnya.

Life is good when we change everyday to be a better and better person. But life is still good when we keep our heart and brain in their place.

          

 to be continue another story...








Sunday, August 11, 2013

Laugh of Holiday

Senyum dan tertawa.... Tertawa sampai perutmu sakit... Berlari dan menari..
Semua yang menarik dan membahagiakan seolah-olah kamu lah manusia paling beruntung
Dan hari ini semua itu tampak semu..
Semua yg sudah lewat tawa lepas yang singkat, candaan keakraban sekarang hanya sebuah vision

Hari ini, minggu 11 agustus 2013,
Hi you,
Apa kabarmu?
Liburan sudah berakhir, liburan kesekian yang dilewatkan tanpamu...
Oke let me share a bit of story of my holiday last couple day,
Bertemu dgn banyak orang akhir2 ini, bertegur sapa bergurau, bercanda hingga tertawa dan lupa diri
Pipiku terasa melunak...
Ah tidak juga, akhir2 ini aku banyak tertawa bahkan ketika pikiran semeraut..
Entahlah, seperti biasa aku tidak tahu mengapa...
Tapi mungkin seiring waktu aku belajar to let all things flow like God's will
Ini adalah tahun belajar bukan hanya ilmu baru dari kantorku
Tapi belajar memainkan kartu yang sudah di bagikan ditanganku
Bagaimana aku bisa keluar sebagai pemenang, dengan atau tanpa kartu yang bagus
Semuanya semnuanya terserah Tuhan yang menentukan.
Aku yg berikhtiar menjalankan....
Harapan-harapan yang belum juga tercapai pasti ada di suatu jalan di depan
Yang aku butuhkan adalah menikmati perjalanan to feel the feet on the road
To see the light in front of
To let the wind blowing my hair... To let my face straight looking at the light
Minggu ini aku lewatkan dengan banyak tawa. Acara idul fitri yang selalu harus aku hadiri, tradisi keluarga untuk berkumpul di kota asal nenek moyang. Berziarah ke makam keluarga...
Berkumpul dengan para bocah adik sepupu.. Terpaksa terjebak dalam interview para dewasa
Menanyakan hal yang serupa.... Sedikit jengah dengan pertanyaan yang sama.. Tapi entah mengapa tidak habis tawa dan senyum yang aku umbar....mungkin juga karena adanya message dari orang yang sempat kukenal di kantorku yang dlu... Tidak ada perasaan apapun -palingtidak begitu yang dirasakan sekarang- tapi entah bagaimana ketika ada invite friend darinya aku bersemangat untuk segera menyapanya....
Teman-teman lama yang hadir memang terkadang menyenangkan.
Dan tetaplah seperti itu....
Dan masa lalu yang mendesak masuk pada masa sekarang mungkin juga harus diperhitungkan.. Apapun itu yang akan terjadi mungkin baik bila bersama tapi mungkin juga tidak.
Yang terbaik adalah menjalani tawa hari ini dan bersemangat menghadapi besok.
Membayangkan membuka laptop, membuka email, sikejar-kejar deadline... Larut dalam rutinitas pekerjaan menjadi sedikit kreatif dalam bekeja.. And let people who adore you to be beside you around and let the othera who count you nothing pass by...

Today i reported to you that im happy enough to struggling waiing you in the edge...
 Xoxo
Happy ied mubarak😋






Sunday, July 7, 2013

Day Dreaming

Kehidupan tidak selalu bagus akhir-akhir ini. Hal terbaik saat ini adalah keep alive without losing dignity....


Aku bermimpi - akhir-akhir ini bermimpi- mimpi yang sama, paling tidak serupa. Sebuah mimpi yang melampaui batas-batas kata yang aku miliki. Mungkin sebuah harapan yang masih tidak dapat aku sentuh. Realita yang harus dihadapi setiap harinya tanpa bisa bernegosiasi. Karena jiwa memang Tuhan yang memiliki.

Aku bermimpi dan aku masih ingat mimpi itu berulang. Bagaimana bisa mimpi berulang. apakah itu sebuah deja vu?

Beberapa minggu ini, aku disibukkan pada pekerjaan dan kebutuhan akan sosial. Mencoba untuk lebih intens berteman dengan lingkungan baru. Bersenang-senang meski jauh dari rumah. Membuat nyaman diri sendiri dengan berbagai hal. Menghabiskan banyak uang untuk diri sendiri dan beberapa orang yang disayangi. Mencoba menerima bahwa diri sendiri butuh waktu untuk membuka diri. Mencoba memaafkan diri sendiri dan take a deal with all wrong. Mencoba memperbaiki diri -penampilan juga-. mencoba membuka hati meski belum memantapkan hati. Tertawa dan menanamkan pada diri sendiri bahwa "saya bahagia".

Akhir-akhir ini saya secara tidak sadar tertawa lebih banyak. Melamun lebih sedikit. dan secara mengejutkan fokus lebih sedikit pula. entah bagaimana, sejujurnya aku tidak menyukai pekerjaan ini tapi secara bersamaan memantapkan hati untuk bertahan. Ini adalah sebuah kebutuhan orang dewasakah? terhadap materi? terhadap eksistensi? atau terhadap kehormatan dari sebuah jabatan? Tapi dalam hati, merasa paling bodoh diantara mereka dengan latar belakang kuliah yang lebih sepadan dengan pekerjaan ini. Dan aku harus bersaing dan berperang dalam battlefield yang salah.

Tapi seolah-olah tidak ada ruang untuk passion, aku terus maju dalam perang satu arah ini, mencoba menerima jika dicemooh kurang cermat dan cerdas. Mencoba mempelajari dan belajar, meski tidak tahu akan menjadi sempurna dalam pekerjaan ini. Jiwa perfeksionis yang diturunkan mama, membuatku gila dan frustasi. Jika memang tidak bisa sempurna harusnya aku mundur dan mencari area yang bisa membuatku sempurna.

Dalam sosial media aku menulis: 4 years is not that long, but it's long enough being in the wrong battle.

bagaimana aku betahan pada sebuah pekerjaan yang bahkan aku sama sekali tidak tertarik tapi otakku secara rasional mengajak aku untuk terus berpikir. Terlepas dari senangnya memiliki teman-teman baru dalam tim kerja, pekerjaan ini membuatku malas, bosan, dan hilang fokus. Aku bahkan mudah untuk melupakan sesuatu yang harus aku kerjakan.

It's a hell in pleasure of job.
Sementara otakku berputar pada bagaimana membuat baju, bagaimana mendisain tas dan aksesoris, berpikir menjadi penulis terkenal.

Ini bulan July, lebih dari setengah tahun aku  habiskan dalam pekerjaan yang semakin salah dan salah. Tidak apa-apa, semua baik pada akhirnya. Menikmati mimpi-mimpi yang hampir seringnya sama, menikmati tawa pagi dan sore yang dihadirkan di ruang kerja project. Mencoba mendengarkan teman-teman yang cerita mengenai kedekatannya dengan pria. Mencoba tersenyum dan berbahagia atas kebahagiaan orang-orang yang tidak dikenal.

Have fun there (for me)

Sunday, June 9, 2013

Wish I....

Apa yang diharapkan semua orang di seluruh dunia?
Apakah Tuhan sibuk setiap detiknya menerima harapan-harapan setiap orang di muka bumi ini?
Tidakkah Dia bosan mendengar harapan dan keluhan?
Sepanjang hari kami hanya memunculkan keinginan baru. Sepertinya harapan itu tidak akan pernah berhenti. Tidak pernah.
Aku merasa aneh akhir-akhir ini. Setiap memandang orang yang aku temui, dalam benakku ada pertanyaan apa yang sedang mereka harapkan, apa yang akan terjadi pada mereka.

Setiap membuka mata, aku sering berpikir, siapa lagi yang akan pergi dariku, pergi karena harus atau pergi karena keputusannya sendiri. Pergi sangat jauh atau pergi menghilang dari pandanganku saja. Dunia ini luas tapi terlalu sempit untuk bersembunyi.

Jika tahun kemarin adalah tahun dimana aku jatuh cinta dan jatuh retak. Maka tahun ini adalah dimana aku berada dalam kursi penonton menyaksikan laga kehidupan teman-temanku. Tertawa ketika mereka bercanda, tersenyum ketika ada keharu-biruan dalam hidup mereka, bersedih ketika mereka kehilangan sesuatu. Sambil begitu, aku menunggu siapa yang akan duduk di sebelahku berikutnya. Untuk menetap bukan untuk berkelana. Aku tidak bisa begitu yakin bangku itu akan terisi, tapi aku yakini aku akan duduk di situ, tidak dengan kekhawatiran berlebih akan berakhir sendiri menonton laga itu. Segala kesenangan ini bukan sebuah kompensasi dari kedataran yang aku alami.

Mengenai harapanku. Ah, seandainya aku bisa membeli harapan. Tapi aku tidak berharap. Tidak lagi. Mungkin tidak kali ini. Aku menjalani kartu yang terbagi di tanganku. Tidak mengharapkan kartu yang terbagi di tangan orang lain. Aku memainkannya sebisaku. Sehingga aku tidak perlu terlalu kalah.

Apa harapan setiap orang di bumi ini?
Apa harapanmu?

Saturday, May 18, 2013

Recognized It's Saturday Noon

Meski ini terdengar terlalu berlebihan.
Kehilangan sepertinya menjadi momok yang menakutkan. Maka ketika seseorang- yang bahkan kuragukan perasaannya- yang hadir meski tak utuh dan akhirnya akan meninggalkanku nanti - mungkin-, rasanya aku merasa hancur. Seperti sebuah fobia akan sesuatu, merasakan ditinggalkan oleh sesuatu atau seseorang membuatku sangat hancur dan sedih. Sehingga, secara berlebihan ini semua terlalu dibesar-besarkan.
Merujuk pada saran seorang temanku, untuk tetap fokus pada kualitas hidupku dulu. Bukan terlalu ngoyo mencari pendamping. dan katanya (yang membuatku terkikik kadang) berkerudung bukan untuk mencari jodoh, apa pula itu.
Membahas tentang berhijab sedikit. Setelah bergelut dengan hatiku selama sekitar 20 tahunan hidupku di dunia ini. Aku akhirnya mengalah pada hatiku (dengan tidak meninggakan otakku tentu) untuk menutup hijabku, meski itu masih belum sempurna. Tetapi suatu saat, mungkin langkah ini akan menanjak ke atas, kembali pada jalan Tuhan yang aku yakini. Bukan arus dunia yang terus berubah dan mengaburkan. Aku terus mencari ke dalam diriku apa yang bisa membuatku damai. Meski hijab ini sudah menyemat dalam kepalaku. Tapi tidak serta merta efek itu terasa, yang paling aku rasakan adalah aku merasa lebih menjaga hati dan diri. Semoga Tuhan dan alam ini menjaga aku. Demi Tuhan, ini barulah awal. Ber-Hijab.
Kembali pada pembahasan Saturday Noon, tentang seseorang yang hadir dalam diriku. Anno, sahabat baikku, mengatakan aku hanya perlu bersabar, memusatkan hatiku untuk pekerjaanku, mendekatkan diri pada Tuhanku, Allah SWT, dan tidak membiarkanku berlarut-larut pada cinta sesaat, hubungan yang menyakitkan, orang-orang yang membuatku merasa lelah.
Dia pun menyampaikan padaku, untuk bersabar menanti seseorang yang membuatku untuk mau hidup. Ya, benar sekali, menemukan seseorang yang dapat membangkitkan semangat hidup setiap harinya, memberikan inspirasi untuk bangun di pagi hari, bersemangat untuk menanti sore, tanpa harus menunggu harapan-harapan kosong darinya, Seseorang yang memberikan lembayung bahkan setelah hujan yang dilalui. Memberikan kehangatan pagi dan menyejukan seperti hawa subuh sebelum pagi. Dia mengatakan untuk aku bersabar tanpa harus terburu-buru menganggap orang-orang yang datang mungkin orang yang aku cari, padahal mungkin itu hanya euforia akan penantian, bukan sebuah core dari apa yang aku cari.
Tapi itu terkadang sulit, karena ketika aku tidak mengacuhkannya dan nantinya mereka menyerah dan meninggalkanku, meski hati ini tidak sepenuhnya aku berikan pada mereka, tetapi perasaan ditinggalkan yang menjadi fobia baruku ini akan menyerang. Penyakit Psikosomatisku akan kambuh, dan, percayalah, itu melelahkan, sangat melelahkan, ketika napsu makan menjadi hilang, lidahku menjadi kelu, kerongkonganku menjadi gersang, meski berliter-liter air telah kutenggak. dan ketika pikiran menjadi teralihkan dan terpusat hanya ingin menikmati icep-icep. Itu memuakan. Percayalah.
Bahwa wanita Indonesia yang memang tinggal di Indonesia ini harus menjaga tradisi turun temurun yang terimplementasikan dalam tindak tanduknya. Bahwa batasan itu dimana-mana hasil percampuran budaya timur dan tentu yang tidak terelakan aturan agama. Ini menjadi suatu kegilaan.
Membaca buku kajian budaya feminis milik aquarini (yang diberikan seseorang dari masalaluku) bahwa wanita indonesia selalu terbentur berbagai hal mengenai tradisi dan budaya ketimuran, menyadarkanku bahwa lelah itu bukan milikku saja. Bahwa amarah itu ada mungkin dalam beberapa hati para wanita. Bahwa wanita ingin diterima sebagai manusia yang tidak sempurna, bukan wanita sempurna dengan setumpuk kesabaran dan ketabahannnya, sehingga lupa bahwa wanita yang manusia ini juga perlu untuk menangis dan meradang.
Aku seharusnya tidak perlu lari dari kenyataan, bahwa teman-temanku mungkin akan segera meninggalkanku dalam pernikahan mereka, dalam kesuksesan karier mereka, dalam hubungan yang sudah kuat dengan pasangan-pasangannya, dalam penemuan mereka akan sebuah lembaran masa depan. Aku harusnya menemukan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, menggandeng diri sendiri, berjalan perlahan pada satu titik di depan. Meski titik itu belum bisa aku lihat.
Jika seseorang meninggalkanku, seharusnya aku meyakinkan diriku bahwa akan ada yang datang lagi. Lalu, jika aku bisa menyadari ini mengapa aku masih tidak bisa menghilangkan trauma akan kehilangan, Fobia feeling abandoned. Bahwa menangis merasa sakit itu alami dan akan terjadi terus hingga mati. Lalu mengapa ada ketakutan berlebih dalam diriku? Cinta itu akan datang dalam bentuk apapun, ah, tidak, cinta itu sudah ada dalam hatiku terhadap hidupku. Aku hanya perlu menyadari itu.
Hujan turun di kota besar ini, hawa panas masih terasa meski berkurang. Aku merindukan sebuah kota dengan pelangi, seseorang akan membawaku pada kota itu, seseorang akan datang padaku dan merangkul aku pada tempat yang aman, menyandarkanku dalam kenyamanan, merendam kekhawatiranku akan segala hal. Seseorang itu seharusnya ada, Tuhan telah menciptkannya, aku hanya perlu.... Menemukannya.
Saturday Afternoon, membuatku semakin sadar, ini panggilan dari nurita kecil, gadis 10 tahun yang penuh khayalan, introvert, tenggelam dalam buku dan komik, tergila-gila akan menulis, dan aku tahu aku ingin jadi apa, sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis di tengah budaya modern dan kerumitan dunia. Meski intelektual tak seberapa, tapi menurut rene suhardono, penulis your job is not your career, bahwa passion itu is not what you're good at but what you enjoy the most.
And guess what, thanks to people who always support me to back to 'my earth' dan menyadarkankan aku menulis adalah duniaku, aku tidak perlu memaksakan diri untuk bertarung dalam medan perang yang salah. Paling tidak ke depannya. karena realita akan materi needed yang cukup tinggi.
Aku terus belajar untuk paling tidak mendekati itu dan mewujudkannya, sebelum nafas benar-benar habis.
Lalu untuk penemuan akan seseorang?
Hahahaha.... We'll see. we are not going to end this story too soon, right?
Enjoy it...


_Thanks For reading_
Je'

Friday, May 17, 2013

Blue Friday

Blue Friday,

Sebenarnya, hari ini adalah yellow friday dengan blue feeling. Tidur terlalu larut semalam. Pukul 02.00 dini hari yang kuingat. setelah menerima telepon dari seseorang. Hatiku menjadi sebuah lingkaran kelabu yang pekat.
Yang kuingat sebelum tertidur selarut itu kupandangi kipas angin yang berputar melambat. Mungkin kipas angin itu sudah terlalu lelah berputar pada poros yang sama setiap hari. Begitu juga denganku. Ada yang salah dengan pijakanku ini. Entah apa. selalu tidak sadar apa yang aku rasakan dan aku pikirkan.
Menurut orang sifat introvertku berbahaya. Beberapa ada yang menganggap bahwa aku adalah sanguiist, orang yang extrovert dan ceria. Itu bohong besar. Yang benar Im acting as if....
Seseorang mendukungku untuk tetap menulis, bergaya feminim. Apa yang bagus dari bergaya feminim? Menjadi feminim awalnya tidak pernah menjadi tujuanku. I always claim me as casual woman. Selalu apa adanya, bahkan jika norma tak melarangku aku akan berjalan dengan selembar kain murah terlilit asal ditubuhku dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi menjadi feminin adalah tuntutan dunia yang terlalu kejam. Untuk menjadi seseorang yang diekspektasikan oleh banyak pria dan tuntutan kultur timur yang kemayu. Belum lagi kebutuhan untuk segera menggaet pasangan untuk bersanding dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ah, terlalu mahal hidup ini. Sehingga aku tidak tahu umtuk menjadi sederhana. Tidak. Aku menangis karena aku memiliki ketakutan besar bahwa tidak ada yang akan menerima aku yang utuh lengkap dengan diriku sendiri, Manja, selfish, but full of empathize. Kekurangan tidak akan pernah menjadi kelebihan.
Sampai hari ini. Pencarian akan diri sendiri yang hilang ini masih tetap tidak utuh. Seperti merangkai puzzle gambar diri sendiri. Ini adsalah pencarian yang melelahkan.
Aku tidak pernah menyangka akan berpikir seperti ini : Bahwa menjadi mandiri itu mungkin menjadi sendiri. Aku tidak merasa bangga atau senang menjadi mandiri. Aku tidak mau menjadi sendiri. Aku ingin tertawa, menangis, dan merasakan dilindungi oleh seseorang.
Setelah kehilangan kakakku aku tidak tahu ada pria yang secara tulus tanpa embel-embel untuk tetap melindungiku sebagaimana seharusnya pria melindungi wanita.
tapi ini bukan sebuah tulisan melancholic dari seorang wanita seperti aku. Tidak pantas. Aku yang mengukur ketidakpantasan ini. Bagiku seharusnya tulisan ini menjadi jejak yang tetap hidup menggambarkan kehidupan pasca abad 21. Bahwa dunia semakin menggila. Bahwa mata semakin kabur. Bahwa tidak ada cinta yang menggebu-gebu, Bahwa semua menjadi materi result.
Tapi bagi orang timur, Hal yang selalu menjadi konstan adalah wanita tetap memiliki norma dan batasan yang kompleks, untuk menikah di umur sekian. untuk menjadi wanita dengan rasa "isin' yang tinggi. bahwa wanita tidak berhak untuk mengajak seseorang menikah. Isiiinnn....
AH, tanpa sadar aku menjadi sangat feminis gaya kebarat-baratan. Aku tidak suka. aku bukan seorang feminis, Aku humanis.
Lepas dari teori-teori akan norma dan dunia feminis.
Kembali menapaki hari jumat ceria yang kuisi dengan keinginan untuk mengisap icep-icep. sekedar ingin merasa melayang. Sekedar ingin melupakan orang-orang yang menyakitiku. Sekedar ingin melupakan tuntutan-tuntutan tidak tertulis dari dunia ini.
Atau mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi dunia ini. Seolah benar-benar tertekan. Atau memang ini lah yang dirasakan.
Karena mahluk sosial selalu saling memandang sebagai bagian dari interaksi, tanpa sadar tuntutan itu karena interaksi sosial untuk menjadi equal dengan yang lain. Padahal mungkin tidak harus.
Hidupku yang begini mungkin indah. Apa yang salah? selain kesalahan kegagalan pernikahan orang tua. Unprotected daughter, abandoned sister, selain itu tidak ada yang lebih buruk?
Atau ekspektasi dalam otakku yang sudah mulai buram. Keinginan random akan sesuatu - seseorang- menjadikan aku seolah-olah burung piit yang berharap menjadi elang. elang itu memakan mangsa yang besar. Sehingga ia ditakuti.
Ah, Ya. Mungkin aku butuh suatu eksistensi di dunia ini sebagai seseorang. Namun bukan sebagai pegawai konsultan yang mangut-mangut. Aku memiliki ekspektasi menjadi bebas dan be leader. tapi langkahku terlalu kecil kecil, berjinjit dan lama.
Ah, ya. Mungkin aku terlalu pengkhayal. Berharap ada lelaki super yang akan melindungiku karena bahkan yang seluruh anak di dunia ini memanggil papa, aku tidak kenal. aku tidak merasakan.
Track record kehidupan yang buruk, pergantian kerja yang terlalu sering, cita-cita yang absurd, passion menulis yang tidak tersalurkan. Berjalan sesuai arus itu tidak selalu bagus.
Aku lenyap, aku lenyap dalam arus dunia. Aku hilang tertiup angin seperti pasir di bibir pantai. aku hanya akan hilang tanpa jejak dalam hati siapapun.
Lalu ketika jiwa ini benar-benar tertidur, akankah aku menjadi seseorang dalam hati seseorang? atau mungkin bisakah aku berharap menjadi sebuah ukiran besar dalam jantung dunia dan seluruh dunia bisa tahu siapa aku.
Bagaimana mereka mengenal aku? Bagaimana aku akan meninggalkan jejak.....
Seperti biasa, yang kelabu dariku adalah keabsurdan pemikiranku. Biarlah dunia tidak mengerti, aku tidak membuat mereka mengerti.... aku butuh aku menemukan diriku, yang utuh....