Aku bermimpi - akhir-akhir ini bermimpi- mimpi yang sama, paling tidak serupa. Sebuah mimpi yang melampaui batas-batas kata yang aku miliki. Mungkin sebuah harapan yang masih tidak dapat aku sentuh. Realita yang harus dihadapi setiap harinya tanpa bisa bernegosiasi. Karena jiwa memang Tuhan yang memiliki.Aku bermimpi dan aku masih ingat mimpi itu berulang. Bagaimana bisa mimpi berulang. apakah itu sebuah deja vu?
Beberapa minggu ini, aku disibukkan pada pekerjaan dan kebutuhan akan sosial. Mencoba untuk lebih intens berteman dengan lingkungan baru. Bersenang-senang meski jauh dari rumah. Membuat nyaman diri sendiri dengan berbagai hal. Menghabiskan banyak uang untuk diri sendiri dan beberapa orang yang disayangi. Mencoba menerima bahwa diri sendiri butuh waktu untuk membuka diri. Mencoba memaafkan diri sendiri dan take a deal with all wrong. Mencoba memperbaiki diri -penampilan juga-. mencoba membuka hati meski belum memantapkan hati. Tertawa dan menanamkan pada diri sendiri bahwa "saya bahagia".
Akhir-akhir ini saya secara tidak sadar tertawa lebih banyak. Melamun lebih sedikit. dan secara mengejutkan fokus lebih sedikit pula. entah bagaimana, sejujurnya aku tidak menyukai pekerjaan ini tapi secara bersamaan memantapkan hati untuk bertahan. Ini adalah sebuah kebutuhan orang dewasakah? terhadap materi? terhadap eksistensi? atau terhadap kehormatan dari sebuah jabatan? Tapi dalam hati, merasa paling bodoh diantara mereka dengan latar belakang kuliah yang lebih sepadan dengan pekerjaan ini. Dan aku harus bersaing dan berperang dalam battlefield yang salah.
Tapi seolah-olah tidak ada ruang untuk passion, aku terus maju dalam perang satu arah ini, mencoba menerima jika dicemooh kurang cermat dan cerdas. Mencoba mempelajari dan belajar, meski tidak tahu akan menjadi sempurna dalam pekerjaan ini. Jiwa perfeksionis yang diturunkan mama, membuatku gila dan frustasi. Jika memang tidak bisa sempurna harusnya aku mundur dan mencari area yang bisa membuatku sempurna.
Dalam sosial media aku menulis: 4 years is not that long, but it's long enough being in the wrong battle.
bagaimana aku betahan pada sebuah pekerjaan yang bahkan aku sama sekali tidak tertarik tapi otakku secara rasional mengajak aku untuk terus berpikir. Terlepas dari senangnya memiliki teman-teman baru dalam tim kerja, pekerjaan ini membuatku malas, bosan, dan hilang fokus. Aku bahkan mudah untuk melupakan sesuatu yang harus aku kerjakan.
It's a hell in pleasure of job.
Sementara otakku berputar pada bagaimana membuat baju, bagaimana mendisain tas dan aksesoris, berpikir menjadi penulis terkenal.
Ini bulan July, lebih dari setengah tahun aku habiskan dalam pekerjaan yang semakin salah dan salah. Tidak apa-apa, semua baik pada akhirnya. Menikmati mimpi-mimpi yang hampir seringnya sama, menikmati tawa pagi dan sore yang dihadirkan di ruang kerja project. Mencoba mendengarkan teman-teman yang cerita mengenai kedekatannya dengan pria. Mencoba tersenyum dan berbahagia atas kebahagiaan orang-orang yang tidak dikenal.
Have fun there (for me)