Friday, May 17, 2013

Blue Friday

Blue Friday,

Sebenarnya, hari ini adalah yellow friday dengan blue feeling. Tidur terlalu larut semalam. Pukul 02.00 dini hari yang kuingat. setelah menerima telepon dari seseorang. Hatiku menjadi sebuah lingkaran kelabu yang pekat.
Yang kuingat sebelum tertidur selarut itu kupandangi kipas angin yang berputar melambat. Mungkin kipas angin itu sudah terlalu lelah berputar pada poros yang sama setiap hari. Begitu juga denganku. Ada yang salah dengan pijakanku ini. Entah apa. selalu tidak sadar apa yang aku rasakan dan aku pikirkan.
Menurut orang sifat introvertku berbahaya. Beberapa ada yang menganggap bahwa aku adalah sanguiist, orang yang extrovert dan ceria. Itu bohong besar. Yang benar Im acting as if....
Seseorang mendukungku untuk tetap menulis, bergaya feminim. Apa yang bagus dari bergaya feminim? Menjadi feminim awalnya tidak pernah menjadi tujuanku. I always claim me as casual woman. Selalu apa adanya, bahkan jika norma tak melarangku aku akan berjalan dengan selembar kain murah terlilit asal ditubuhku dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi menjadi feminin adalah tuntutan dunia yang terlalu kejam. Untuk menjadi seseorang yang diekspektasikan oleh banyak pria dan tuntutan kultur timur yang kemayu. Belum lagi kebutuhan untuk segera menggaet pasangan untuk bersanding dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ah, terlalu mahal hidup ini. Sehingga aku tidak tahu umtuk menjadi sederhana. Tidak. Aku menangis karena aku memiliki ketakutan besar bahwa tidak ada yang akan menerima aku yang utuh lengkap dengan diriku sendiri, Manja, selfish, but full of empathize. Kekurangan tidak akan pernah menjadi kelebihan.
Sampai hari ini. Pencarian akan diri sendiri yang hilang ini masih tetap tidak utuh. Seperti merangkai puzzle gambar diri sendiri. Ini adsalah pencarian yang melelahkan.
Aku tidak pernah menyangka akan berpikir seperti ini : Bahwa menjadi mandiri itu mungkin menjadi sendiri. Aku tidak merasa bangga atau senang menjadi mandiri. Aku tidak mau menjadi sendiri. Aku ingin tertawa, menangis, dan merasakan dilindungi oleh seseorang.
Setelah kehilangan kakakku aku tidak tahu ada pria yang secara tulus tanpa embel-embel untuk tetap melindungiku sebagaimana seharusnya pria melindungi wanita.
tapi ini bukan sebuah tulisan melancholic dari seorang wanita seperti aku. Tidak pantas. Aku yang mengukur ketidakpantasan ini. Bagiku seharusnya tulisan ini menjadi jejak yang tetap hidup menggambarkan kehidupan pasca abad 21. Bahwa dunia semakin menggila. Bahwa mata semakin kabur. Bahwa tidak ada cinta yang menggebu-gebu, Bahwa semua menjadi materi result.
Tapi bagi orang timur, Hal yang selalu menjadi konstan adalah wanita tetap memiliki norma dan batasan yang kompleks, untuk menikah di umur sekian. untuk menjadi wanita dengan rasa "isin' yang tinggi. bahwa wanita tidak berhak untuk mengajak seseorang menikah. Isiiinnn....
AH, tanpa sadar aku menjadi sangat feminis gaya kebarat-baratan. Aku tidak suka. aku bukan seorang feminis, Aku humanis.
Lepas dari teori-teori akan norma dan dunia feminis.
Kembali menapaki hari jumat ceria yang kuisi dengan keinginan untuk mengisap icep-icep. sekedar ingin merasa melayang. Sekedar ingin melupakan orang-orang yang menyakitiku. Sekedar ingin melupakan tuntutan-tuntutan tidak tertulis dari dunia ini.
Atau mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi dunia ini. Seolah benar-benar tertekan. Atau memang ini lah yang dirasakan.
Karena mahluk sosial selalu saling memandang sebagai bagian dari interaksi, tanpa sadar tuntutan itu karena interaksi sosial untuk menjadi equal dengan yang lain. Padahal mungkin tidak harus.
Hidupku yang begini mungkin indah. Apa yang salah? selain kesalahan kegagalan pernikahan orang tua. Unprotected daughter, abandoned sister, selain itu tidak ada yang lebih buruk?
Atau ekspektasi dalam otakku yang sudah mulai buram. Keinginan random akan sesuatu - seseorang- menjadikan aku seolah-olah burung piit yang berharap menjadi elang. elang itu memakan mangsa yang besar. Sehingga ia ditakuti.
Ah, Ya. Mungkin aku butuh suatu eksistensi di dunia ini sebagai seseorang. Namun bukan sebagai pegawai konsultan yang mangut-mangut. Aku memiliki ekspektasi menjadi bebas dan be leader. tapi langkahku terlalu kecil kecil, berjinjit dan lama.
Ah, ya. Mungkin aku terlalu pengkhayal. Berharap ada lelaki super yang akan melindungiku karena bahkan yang seluruh anak di dunia ini memanggil papa, aku tidak kenal. aku tidak merasakan.
Track record kehidupan yang buruk, pergantian kerja yang terlalu sering, cita-cita yang absurd, passion menulis yang tidak tersalurkan. Berjalan sesuai arus itu tidak selalu bagus.
Aku lenyap, aku lenyap dalam arus dunia. Aku hilang tertiup angin seperti pasir di bibir pantai. aku hanya akan hilang tanpa jejak dalam hati siapapun.
Lalu ketika jiwa ini benar-benar tertidur, akankah aku menjadi seseorang dalam hati seseorang? atau mungkin bisakah aku berharap menjadi sebuah ukiran besar dalam jantung dunia dan seluruh dunia bisa tahu siapa aku.
Bagaimana mereka mengenal aku? Bagaimana aku akan meninggalkan jejak.....
Seperti biasa, yang kelabu dariku adalah keabsurdan pemikiranku. Biarlah dunia tidak mengerti, aku tidak membuat mereka mengerti.... aku butuh aku menemukan diriku, yang utuh....







No comments:

Post a Comment