Saturday, May 18, 2013

Recognized It's Saturday Noon

Meski ini terdengar terlalu berlebihan.
Kehilangan sepertinya menjadi momok yang menakutkan. Maka ketika seseorang- yang bahkan kuragukan perasaannya- yang hadir meski tak utuh dan akhirnya akan meninggalkanku nanti - mungkin-, rasanya aku merasa hancur. Seperti sebuah fobia akan sesuatu, merasakan ditinggalkan oleh sesuatu atau seseorang membuatku sangat hancur dan sedih. Sehingga, secara berlebihan ini semua terlalu dibesar-besarkan.
Merujuk pada saran seorang temanku, untuk tetap fokus pada kualitas hidupku dulu. Bukan terlalu ngoyo mencari pendamping. dan katanya (yang membuatku terkikik kadang) berkerudung bukan untuk mencari jodoh, apa pula itu.
Membahas tentang berhijab sedikit. Setelah bergelut dengan hatiku selama sekitar 20 tahunan hidupku di dunia ini. Aku akhirnya mengalah pada hatiku (dengan tidak meninggakan otakku tentu) untuk menutup hijabku, meski itu masih belum sempurna. Tetapi suatu saat, mungkin langkah ini akan menanjak ke atas, kembali pada jalan Tuhan yang aku yakini. Bukan arus dunia yang terus berubah dan mengaburkan. Aku terus mencari ke dalam diriku apa yang bisa membuatku damai. Meski hijab ini sudah menyemat dalam kepalaku. Tapi tidak serta merta efek itu terasa, yang paling aku rasakan adalah aku merasa lebih menjaga hati dan diri. Semoga Tuhan dan alam ini menjaga aku. Demi Tuhan, ini barulah awal. Ber-Hijab.
Kembali pada pembahasan Saturday Noon, tentang seseorang yang hadir dalam diriku. Anno, sahabat baikku, mengatakan aku hanya perlu bersabar, memusatkan hatiku untuk pekerjaanku, mendekatkan diri pada Tuhanku, Allah SWT, dan tidak membiarkanku berlarut-larut pada cinta sesaat, hubungan yang menyakitkan, orang-orang yang membuatku merasa lelah.
Dia pun menyampaikan padaku, untuk bersabar menanti seseorang yang membuatku untuk mau hidup. Ya, benar sekali, menemukan seseorang yang dapat membangkitkan semangat hidup setiap harinya, memberikan inspirasi untuk bangun di pagi hari, bersemangat untuk menanti sore, tanpa harus menunggu harapan-harapan kosong darinya, Seseorang yang memberikan lembayung bahkan setelah hujan yang dilalui. Memberikan kehangatan pagi dan menyejukan seperti hawa subuh sebelum pagi. Dia mengatakan untuk aku bersabar tanpa harus terburu-buru menganggap orang-orang yang datang mungkin orang yang aku cari, padahal mungkin itu hanya euforia akan penantian, bukan sebuah core dari apa yang aku cari.
Tapi itu terkadang sulit, karena ketika aku tidak mengacuhkannya dan nantinya mereka menyerah dan meninggalkanku, meski hati ini tidak sepenuhnya aku berikan pada mereka, tetapi perasaan ditinggalkan yang menjadi fobia baruku ini akan menyerang. Penyakit Psikosomatisku akan kambuh, dan, percayalah, itu melelahkan, sangat melelahkan, ketika napsu makan menjadi hilang, lidahku menjadi kelu, kerongkonganku menjadi gersang, meski berliter-liter air telah kutenggak. dan ketika pikiran menjadi teralihkan dan terpusat hanya ingin menikmati icep-icep. Itu memuakan. Percayalah.
Bahwa wanita Indonesia yang memang tinggal di Indonesia ini harus menjaga tradisi turun temurun yang terimplementasikan dalam tindak tanduknya. Bahwa batasan itu dimana-mana hasil percampuran budaya timur dan tentu yang tidak terelakan aturan agama. Ini menjadi suatu kegilaan.
Membaca buku kajian budaya feminis milik aquarini (yang diberikan seseorang dari masalaluku) bahwa wanita indonesia selalu terbentur berbagai hal mengenai tradisi dan budaya ketimuran, menyadarkanku bahwa lelah itu bukan milikku saja. Bahwa amarah itu ada mungkin dalam beberapa hati para wanita. Bahwa wanita ingin diterima sebagai manusia yang tidak sempurna, bukan wanita sempurna dengan setumpuk kesabaran dan ketabahannnya, sehingga lupa bahwa wanita yang manusia ini juga perlu untuk menangis dan meradang.
Aku seharusnya tidak perlu lari dari kenyataan, bahwa teman-temanku mungkin akan segera meninggalkanku dalam pernikahan mereka, dalam kesuksesan karier mereka, dalam hubungan yang sudah kuat dengan pasangan-pasangannya, dalam penemuan mereka akan sebuah lembaran masa depan. Aku harusnya menemukan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, menggandeng diri sendiri, berjalan perlahan pada satu titik di depan. Meski titik itu belum bisa aku lihat.
Jika seseorang meninggalkanku, seharusnya aku meyakinkan diriku bahwa akan ada yang datang lagi. Lalu, jika aku bisa menyadari ini mengapa aku masih tidak bisa menghilangkan trauma akan kehilangan, Fobia feeling abandoned. Bahwa menangis merasa sakit itu alami dan akan terjadi terus hingga mati. Lalu mengapa ada ketakutan berlebih dalam diriku? Cinta itu akan datang dalam bentuk apapun, ah, tidak, cinta itu sudah ada dalam hatiku terhadap hidupku. Aku hanya perlu menyadari itu.
Hujan turun di kota besar ini, hawa panas masih terasa meski berkurang. Aku merindukan sebuah kota dengan pelangi, seseorang akan membawaku pada kota itu, seseorang akan datang padaku dan merangkul aku pada tempat yang aman, menyandarkanku dalam kenyamanan, merendam kekhawatiranku akan segala hal. Seseorang itu seharusnya ada, Tuhan telah menciptkannya, aku hanya perlu.... Menemukannya.
Saturday Afternoon, membuatku semakin sadar, ini panggilan dari nurita kecil, gadis 10 tahun yang penuh khayalan, introvert, tenggelam dalam buku dan komik, tergila-gila akan menulis, dan aku tahu aku ingin jadi apa, sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis di tengah budaya modern dan kerumitan dunia. Meski intelektual tak seberapa, tapi menurut rene suhardono, penulis your job is not your career, bahwa passion itu is not what you're good at but what you enjoy the most.
And guess what, thanks to people who always support me to back to 'my earth' dan menyadarkankan aku menulis adalah duniaku, aku tidak perlu memaksakan diri untuk bertarung dalam medan perang yang salah. Paling tidak ke depannya. karena realita akan materi needed yang cukup tinggi.
Aku terus belajar untuk paling tidak mendekati itu dan mewujudkannya, sebelum nafas benar-benar habis.
Lalu untuk penemuan akan seseorang?
Hahahaha.... We'll see. we are not going to end this story too soon, right?
Enjoy it...


_Thanks For reading_
Je'

Friday, May 17, 2013

Blue Friday

Blue Friday,

Sebenarnya, hari ini adalah yellow friday dengan blue feeling. Tidur terlalu larut semalam. Pukul 02.00 dini hari yang kuingat. setelah menerima telepon dari seseorang. Hatiku menjadi sebuah lingkaran kelabu yang pekat.
Yang kuingat sebelum tertidur selarut itu kupandangi kipas angin yang berputar melambat. Mungkin kipas angin itu sudah terlalu lelah berputar pada poros yang sama setiap hari. Begitu juga denganku. Ada yang salah dengan pijakanku ini. Entah apa. selalu tidak sadar apa yang aku rasakan dan aku pikirkan.
Menurut orang sifat introvertku berbahaya. Beberapa ada yang menganggap bahwa aku adalah sanguiist, orang yang extrovert dan ceria. Itu bohong besar. Yang benar Im acting as if....
Seseorang mendukungku untuk tetap menulis, bergaya feminim. Apa yang bagus dari bergaya feminim? Menjadi feminim awalnya tidak pernah menjadi tujuanku. I always claim me as casual woman. Selalu apa adanya, bahkan jika norma tak melarangku aku akan berjalan dengan selembar kain murah terlilit asal ditubuhku dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi menjadi feminin adalah tuntutan dunia yang terlalu kejam. Untuk menjadi seseorang yang diekspektasikan oleh banyak pria dan tuntutan kultur timur yang kemayu. Belum lagi kebutuhan untuk segera menggaet pasangan untuk bersanding dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ah, terlalu mahal hidup ini. Sehingga aku tidak tahu umtuk menjadi sederhana. Tidak. Aku menangis karena aku memiliki ketakutan besar bahwa tidak ada yang akan menerima aku yang utuh lengkap dengan diriku sendiri, Manja, selfish, but full of empathize. Kekurangan tidak akan pernah menjadi kelebihan.
Sampai hari ini. Pencarian akan diri sendiri yang hilang ini masih tetap tidak utuh. Seperti merangkai puzzle gambar diri sendiri. Ini adsalah pencarian yang melelahkan.
Aku tidak pernah menyangka akan berpikir seperti ini : Bahwa menjadi mandiri itu mungkin menjadi sendiri. Aku tidak merasa bangga atau senang menjadi mandiri. Aku tidak mau menjadi sendiri. Aku ingin tertawa, menangis, dan merasakan dilindungi oleh seseorang.
Setelah kehilangan kakakku aku tidak tahu ada pria yang secara tulus tanpa embel-embel untuk tetap melindungiku sebagaimana seharusnya pria melindungi wanita.
tapi ini bukan sebuah tulisan melancholic dari seorang wanita seperti aku. Tidak pantas. Aku yang mengukur ketidakpantasan ini. Bagiku seharusnya tulisan ini menjadi jejak yang tetap hidup menggambarkan kehidupan pasca abad 21. Bahwa dunia semakin menggila. Bahwa mata semakin kabur. Bahwa tidak ada cinta yang menggebu-gebu, Bahwa semua menjadi materi result.
Tapi bagi orang timur, Hal yang selalu menjadi konstan adalah wanita tetap memiliki norma dan batasan yang kompleks, untuk menikah di umur sekian. untuk menjadi wanita dengan rasa "isin' yang tinggi. bahwa wanita tidak berhak untuk mengajak seseorang menikah. Isiiinnn....
AH, tanpa sadar aku menjadi sangat feminis gaya kebarat-baratan. Aku tidak suka. aku bukan seorang feminis, Aku humanis.
Lepas dari teori-teori akan norma dan dunia feminis.
Kembali menapaki hari jumat ceria yang kuisi dengan keinginan untuk mengisap icep-icep. sekedar ingin merasa melayang. Sekedar ingin melupakan orang-orang yang menyakitiku. Sekedar ingin melupakan tuntutan-tuntutan tidak tertulis dari dunia ini.
Atau mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi dunia ini. Seolah benar-benar tertekan. Atau memang ini lah yang dirasakan.
Karena mahluk sosial selalu saling memandang sebagai bagian dari interaksi, tanpa sadar tuntutan itu karena interaksi sosial untuk menjadi equal dengan yang lain. Padahal mungkin tidak harus.
Hidupku yang begini mungkin indah. Apa yang salah? selain kesalahan kegagalan pernikahan orang tua. Unprotected daughter, abandoned sister, selain itu tidak ada yang lebih buruk?
Atau ekspektasi dalam otakku yang sudah mulai buram. Keinginan random akan sesuatu - seseorang- menjadikan aku seolah-olah burung piit yang berharap menjadi elang. elang itu memakan mangsa yang besar. Sehingga ia ditakuti.
Ah, Ya. Mungkin aku butuh suatu eksistensi di dunia ini sebagai seseorang. Namun bukan sebagai pegawai konsultan yang mangut-mangut. Aku memiliki ekspektasi menjadi bebas dan be leader. tapi langkahku terlalu kecil kecil, berjinjit dan lama.
Ah, ya. Mungkin aku terlalu pengkhayal. Berharap ada lelaki super yang akan melindungiku karena bahkan yang seluruh anak di dunia ini memanggil papa, aku tidak kenal. aku tidak merasakan.
Track record kehidupan yang buruk, pergantian kerja yang terlalu sering, cita-cita yang absurd, passion menulis yang tidak tersalurkan. Berjalan sesuai arus itu tidak selalu bagus.
Aku lenyap, aku lenyap dalam arus dunia. Aku hilang tertiup angin seperti pasir di bibir pantai. aku hanya akan hilang tanpa jejak dalam hati siapapun.
Lalu ketika jiwa ini benar-benar tertidur, akankah aku menjadi seseorang dalam hati seseorang? atau mungkin bisakah aku berharap menjadi sebuah ukiran besar dalam jantung dunia dan seluruh dunia bisa tahu siapa aku.
Bagaimana mereka mengenal aku? Bagaimana aku akan meninggalkan jejak.....
Seperti biasa, yang kelabu dariku adalah keabsurdan pemikiranku. Biarlah dunia tidak mengerti, aku tidak membuat mereka mengerti.... aku butuh aku menemukan diriku, yang utuh....







Wednesday, May 8, 2013

More Than 25

8 May 2013,

Tahun yang penuh dengan kejutan. Bahkan hingga detik ini aku masih tidak bisa memahami mengapa aku masih hidup. Seakan Tuhan sedang menyetel kehidupanku dengan kecepatan tinggi dalam jalan kota yang padat. Being pushed to avoid the crash with others. Bertemu banyak orang-orang baru yang 'unik'. Membuatku berjaga-jaga seolah-olah mereka akan menyakitiku, seperti yang orang terdahulu....

Melangkah menuju angka yang lebih besar. Berat badan yang melesat jauh. Langkah-langkah yang segera. Tidak sempat untuk aku untuk banyak berpikir. Maka hari ini, sebelum hari itu, aku meminta ijin pada dunia untuk berpikir apa yang sudah aku lontarkan dan putuskan kemarin benar-benar yang aku butuhkan untuk membangun masa depanku. Atau aku hanya makhluk yang gegabah membuat keputusan.

Ini seperti renungan panjang yang memuusingkan kepalaku, menegangkan otot leherku, membekukab aliran darahku, dan menggelapkan pandanganku. aku harus melihat cahaya....

Di tengah kesendirian. Yang datang dan menganggapku sebagai miliknya tanpa menunggu persetujuanku. Yang datang dan menghilang. lebih banyak yang datang dan aku tidak mengerti apa yang diinginkannya dari diriku. Aku hanya tersenyum dan membuka telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan keluhan mereka - the strangers- namun aku sungguh menghargai kepercayaan mereka untuk membagi hidup mereka padaku meski aku sesungguhnya sendiri belum bisa membagi apapun dalam hidupku.

Dalam angka yang akan segera menggendut dalam sel-selku secara biologis. Merasa kembali kesepian, secara fisik dan dalam. Tidak ada dalam kerumunan dan tidak ada dalam bagian dari siapapun di dunia ini. Menjadi bagian hidup ibuku selamanya, mungkin itu. namun terkadang, terasa sepi. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Ingin melepaskan semua. And free to go. tapi aku bagian dari ibuku.

Langit mendung. Petir yang menyambar-nyambar. Pekak pada telinga. Aku tetap merasa sepi. Ingin menghilangkan pikiran skeptis dari dalam otakku. yang ada hanyalah gema panggilan itu "namaku nurita" :namaku nurita" :namaku nurita" selalu terulang dalam telingaku, pikiranku berbicara. Memandang ibuku yang kesepian membuat kepalaku semakin ingin pecah, seandainya memang bisa. Dia menjadi gambaran kesepianku. Betapa aku tidak bisa membuat jalan bahkan untuk diriku sendiri. Jauh keberhasilanku dari kenyataan. Apa yang bisa aku hasilkan hingga usiaku sekarang. Dan sebentar lagi angka itu semakin menggendut.

Mimpi-mimpi yang sama. Hadir mimpi-mimpi yang sama setiap malam. Kekecewaan yang terlalu masuk ke dalam pikiranku. Aku ingin lepas, dari mimpi-mimpi itu. Dari tipuan duniawi, Tuhan, Yaa Rabb, hilangkan keinginan-keinginan yang tidak perlu, yang tidak mampu aku penuhi. Ingin pasrah, tidak mencari jalan keluar dari semua ini. Tidak ingin mencari, hanya ingin berjalan. menuju cahaya itu. Tapi aku bagian dari ibuku. Mimpinya bagian dari tujuanku. Mewujudkannya adalah keharusanku. Dan aku begitu lelah. Terlalu lelah dan kesepian.

Sebentar lagi, aku akan benar-benar kesepian. Ketika satu per satu teman-temanku menemukan jalannya, satu per satu saudara-saudaraku menemukan rumahnya. Dan ibuku semakin menua. Jika aku tidak bisa berlari lalu hanya berjalan cepat, maka semua itu memang akan benar-benar terjadi. Tapi apakah aku harus menurunkan segala habitku dan prinsip hidupku hanya demi memenuhi keinginan dunia?

Perlukah aku mengemis kebahagiaan?
Sementara aku yakin kebahagian bukan diberikan dari seseorang. kebahagian itu ada dalam kerumitan otakku, yang terselip, entah bagaimana, di tengah-tengah terpaan scene-scene hidup yang harus aku jalani.

Mengapa sepi sekali. Hanya ada lantunan lagu dari sini. Tidak sanggup menangis. Tidak sanggup. Tapi aku sungguh ingin tertawa. Entah mengapa. Mengenang masa lalu, terkadang menyenangkan. Tersanjung dan tertawa. Tapi kembali ke masa ini, nanar menatap dan tertawa. Setelah kehilangan terakhir itu....

Masih mempertanyakan : Mengapa sepi sekali di sini?