Monday, January 14, 2013
05:55 PM
Hari ini akhirnya aku menyerah. Duduk sendiri di salah satu meja foodcourt (tanpa colokan listrik dan berarti jika laptop ini habis batre habis sudah yang menemaniku). Sambil menunggu adzan, entah apa yang terjadi hari ini, dimulai dari bangun pagi dengan mengigau, jantung berdegup terlalu lambat, sesak napas, sampai suasana senyap di sekitarku, oh, tunggu, bukan dari luar diriku senyap itu, itu senyap yang muncul dari dalam diriku. Tangis yang mereda bukan karena sudah tak ingin, tapi tak bisa. Entah apa, selalu entah mengapa.
Baiklah kali ini mungkin aku akan membahas mengenai Judul blog ku, "FLA VANILA". Ya Fla Vanilla. Mengapa aku menamai blog ini dengan nama itu. Hal yang terlintas pertama adalah sebuah puding coklat manis yang sederhana dengan saos fla di atasnya, manis. Ya, Manis. itu lah kata kuncinya. Fla vanilla yang putih susu itu sangat menggiurkan bagiku, aku selalu tergoda untuk mencicipi puding. Puding dessert favoritku sepanjang hidupku hingga sekarang. DItambah fla Vanilla kental di atasnya yang menambah manis rasa puding. ummm Yummmy. Di balik itu, aku selalu ingin menjadi fla vanilla, yang manis, dan menggiurkan. Aku ingin menjadi seperti fla vanilla. Aku ingin hidupku akhirnya manis dan indah. Kesulitan itu datang sejak kecil. Entahlah, sejak terlahir, itulah takdirnya, dan aku tidak menyesal. Paling tidak aku berusaha.
Berusaha. Itulah yang sejak dulu harus aku lakukan, tidak ada yang benar-benar mudah aku dapatkan sejauh ini.
Dalam segi apapun,tapi Tuhanku tidak mempersulit pula, hanya memberi sebuah liku dalam perjalanan. Terkadang aku lelah, seolah hidup terlalu panjang. Melihat ke belakang selalu membuatku sepi.
Di sini, hampir semua meja di sekitarku diisi oleh pasangan-pasangan. Menyenangkannya mereka. Saat seperti ini, aku tidak berani mengandalkan teman-temanku, selalu menyusahkan mereka dengan curhat-curhat tidak bermutu, hanya membuat kuping mereka bosan, dan lidah mereka apatis untuk berkomentar. Kali ini aku harus berani menghadapi sendiri, seperti pelayan-pelayan yang lalu lalang di sekitar ku mencoba mencari peruntungan menawarkan menu dari dagangan-dagangannya. Aku memang tercipta menjadi a fighter. Seorang yang berjuang. Kebahagiaan itu ada di depan sana. entah berapa mile lagi.
Dulu aku pikir aku seorang dreamer, aku memimpikan banyak hal di dunia ini. Salah satunya menjadi designer dan keliling dunia. tapi lama kelamaan aku ternyata terjebak dalam sebuah dunia monokrom yang menciptakan jiwaku yang terlalu realistis dan rusak.
aku tidak lagi memiliki angan menjadi "fla vanilla" manis dan menggiurkan. AKu hanya seonggok karyawan kontrak yang biasa saja. disuruh-suruh dan tidak punya wewenang. Auraku buruk sehingga mamah sibuk mencarikan sesuatu untukku. Cinta mamah yang begitu besar, sifatnya yang labil, teman-teman yang senang bergurau dan mau mendengarkan, rasanya aku tidak bisa menghadapi mereka lagi. Mencari cara membahagiakan mereka, tapi berarti aku melanggar prinsipku mengenai kebahagiaan, bahwa jikaingin membahagiakan orang lain maka aku harus terlebih dahulu bahagia. Mungkin ini teori yang salah, mungkin saja, mungkin saja tidak.
MEncari cara untuk menghilang, meninggalkan lembaran-lembaran lama. Orang-orang lama.
Mamah, saudara-saudara, teman-teman, dan selimut kesayanganku. terbang entah kemana, seharusnya, tapi aku masih belum menemukannya, menemukan cara untuk lenyap.
Dulu, aku juga ingin menjadi sebuah inspirasi untuk orang bukan menjadi sebuah benalu dari sebuah komunitas, bukan itu. Menurut mereka, julukan yang tepat buatku adalah si riweuh.
Mereka benar, selalu benar,mmm..mungkin lebih banyak benarnya. Aku pikir aku pintar tapi tidak banyak yang aku tahu, aku pikir aku kuat ternyata hanya segini kemampuanku. Seseorang dari masa laluku datang dan ia berkomentar, aku si autis. Entahlah, kembali aku berujar itu, karena sesuatu pada diriku tidak aku ketahui, yang aku tahu aku tidak autis (means penyendiri). Jika memang ada, aku lebih suka pergi tertawa bersama mereka. tapi waktu mereka sedikit sekali untuk selalu mendampingi aku yang mudah kesepian. Aku sangat mengerti, jauh mengerti jika hidup mereka sudah terbagi dengan masa depan mereka, dengan orang-orang baru di hidup mereka. Tinggal mamah, hanya mamah, dan ia punya harapan besar melihatku berdampingan dengan seseorang secepatnya. tapi justru malah semakin sulit aku menggapai harapan itu. Kembali entah mengapa.
Subscribe to:
Posts (Atom)