Sunday, February 6, 2011

wanita dengan 1001 cerita: One step To forgive

wanita dengan 1001 cerita: One step To forgive: "hari ini saya menonton acara Kick Andy. seperti biasa acara ini mengangkat hal-hal tentang kehidupan yang dikemas dengan menarik, ringan, da..."

One step To forgive

hari ini saya menonton acara Kick Andy. seperti biasa acara ini mengangkat hal-hal tentang kehidupan yang dikemas dengan menarik, ringan, dan bermakna. temanya kali ini "seks bebas di kalangan remaja".
tema ini memang tidak langsung berhubungan dengan hidup saya karena saya tidak pernah brpengalaman dengan seks bebas. tapi ada satu segmen yang mengulas mengenai latar belakang adanya seks bebas yang salah satunya adalah faktor "rumah" atau keluarga.
di sisi itu lah saya merasa sangat tersentuh.
semua orang dekat saya tahu, saya tumbuh dari keluarga yang runtuh. saya tidak pernah tahu mengapa itu terjadi, saya pun rasanya tidak mau tahu sekarang. lelah untuk selalu menduga-duga apa gerangan yang terjadi dengan mereka yang saya lewatkan.
yang saya tahu adalah saya harus segera memaafkan segalanya jika saya mau terbebas dari perasaan hancur dan tidak bahagia.
tapi terkadang saya bertanya, bagaimana saya bisa bahagia jika saya selalu mendampingi orang yang mendominasi hidup saya adalah orang yang tidak bahagia. dia itu mama.
she thinks she is superior. always right better than me.
semua yang saya lakukan salah. Di acara kick andy hari ini psikolog bernama ellia (saya lupa nama panjangnya) orang tua seharusnya juga berkaca, jangan selalu melihat sisi negatif atau kesalahan si anak. anak itu butuh VALIDASI. anak juga butuh pujian, butuh pengakuan, dan butuh dimengerti. psikolog itu juga bicara orang tua harus terus belajar untuk mendidik anak bukan dengan cara mereka dulu dibesarkan. kita hidup di era digital dan era yang jauh berbeda dengan masa lalu. lalu mengapa mama saya terkungkung dengan didikan masa lalu dan membuat saya selalu terpojok dan salah dalam segala hal yang saya lakukan di depannya atau tidak di depannya. back and forth am doing wrong.
then i learned myself to be right to be wrong.saya jadi benci dengannya dan saya menutup kuping saya terhadap semua omelannya. saya marah. dia seolah menyalahkan saya terhadap berbagai hal, dia tidak pernah bersyukur akan keberadaan saya. dia hanya berpikir "saya benar saya mengatakan ini. saya benar saya melakukan ini" she never ask me how my truth feeling is. Yang dia pikirkan adalah bagaimana saya benar menyapu, bukan bagaimana saya belajar di sekolah, yang dia tanyakan hanyalah sudah makan atau belum, bukan enak tidaknya makanan itu, yang dia mau saya mengerti dia bahwa semua omelannya dan kekangannya itu untuk kebaikannya dan baginya yang terpenting tidak pulang malam karena malu sama tetangga, daripada menanyakan bagaimana acara mainnya?what's going on with friends?, dia memaksa saya untuk menceritakan bermacam hal, tapi dia bertanya seolah menginterograsi. dia bahkan tidak tahu perasaan saya sedang bagaimana sementara teman2 saya langsung tahu dari raut wajah saya perasaan saya sedang apa padahal saya tidak pernah bercerita. she asked me to be her friend but she never be a good mom. i'm not a good child indeed. but i never require her to be my friend. saya hanya berharap dia tidak mengganggu saya di saat sedih. itu sedikit dari harapan saya(ketika saya masih sangat kecil itulah harapan saya).
i try my best to deal with it. saya pikir saya ditakdirkan menjadi anaknya. Allah ga pernah salah. saya yakin saya diturunkan untuk sesuatu. mungkin untuk ibu saya.
saya hanya ingin menjadi seseorang. dan saya ingin memiliki mimpi dan saya ingin sebuah keluarga itu harapan besar saya sebenarnya. mungkin itu sebenarnya cita-cita saya. dibanding memikirkan mau jadi apa di sebuah perusahaan atau menjadi siapa di dunia ini. saya hanya ingin menjadi bagian dari keluarga. tertawa, menangis, dan berkumpul tanpa perasaan benci, menyesal, dan praduga yang tidak terjawab.

to be at home and around small happy family is might be my dream. And i promise to make it real.