8 May 2013,
Tahun yang penuh dengan kejutan. Bahkan hingga detik ini aku masih tidak bisa memahami mengapa aku masih hidup. Seakan Tuhan sedang menyetel kehidupanku dengan kecepatan tinggi dalam jalan kota yang padat. Being pushed to avoid the crash with others. Bertemu banyak orang-orang baru yang 'unik'. Membuatku berjaga-jaga seolah-olah mereka akan menyakitiku, seperti yang orang terdahulu....
Melangkah menuju angka yang lebih besar. Berat badan yang melesat jauh. Langkah-langkah yang segera. Tidak sempat untuk aku untuk banyak berpikir. Maka hari ini, sebelum hari itu, aku meminta ijin pada dunia untuk berpikir apa yang sudah aku lontarkan dan putuskan kemarin benar-benar yang aku butuhkan untuk membangun masa depanku. Atau aku hanya makhluk yang gegabah membuat keputusan.
Ini seperti renungan panjang yang memuusingkan kepalaku, menegangkan otot leherku, membekukab aliran darahku, dan menggelapkan pandanganku. aku harus melihat cahaya....
Di tengah kesendirian. Yang datang dan menganggapku sebagai miliknya tanpa menunggu persetujuanku. Yang datang dan menghilang. lebih banyak yang datang dan aku tidak mengerti apa yang diinginkannya dari diriku. Aku hanya tersenyum dan membuka telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan keluhan mereka - the strangers- namun aku sungguh menghargai kepercayaan mereka untuk membagi hidup mereka padaku meski aku sesungguhnya sendiri belum bisa membagi apapun dalam hidupku.
Dalam angka yang akan segera menggendut dalam sel-selku secara biologis. Merasa kembali kesepian, secara fisik dan dalam. Tidak ada dalam kerumunan dan tidak ada dalam bagian dari siapapun di dunia ini. Menjadi bagian hidup ibuku selamanya, mungkin itu. namun terkadang, terasa sepi. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Ingin melepaskan semua. And free to go. tapi aku bagian dari ibuku.
Langit mendung. Petir yang menyambar-nyambar. Pekak pada telinga. Aku tetap merasa sepi. Ingin menghilangkan pikiran skeptis dari dalam otakku. yang ada hanyalah gema panggilan itu "namaku nurita" :namaku nurita" :namaku nurita" selalu terulang dalam telingaku, pikiranku berbicara. Memandang ibuku yang kesepian membuat kepalaku semakin ingin pecah, seandainya memang bisa. Dia menjadi gambaran kesepianku. Betapa aku tidak bisa membuat jalan bahkan untuk diriku sendiri. Jauh keberhasilanku dari kenyataan. Apa yang bisa aku hasilkan hingga usiaku sekarang. Dan sebentar lagi angka itu semakin menggendut.
Mimpi-mimpi yang sama. Hadir mimpi-mimpi yang sama setiap malam. Kekecewaan yang terlalu masuk ke dalam pikiranku. Aku ingin lepas, dari mimpi-mimpi itu. Dari tipuan duniawi, Tuhan, Yaa Rabb, hilangkan keinginan-keinginan yang tidak perlu, yang tidak mampu aku penuhi. Ingin pasrah, tidak mencari jalan keluar dari semua ini. Tidak ingin mencari, hanya ingin berjalan. menuju cahaya itu. Tapi aku bagian dari ibuku. Mimpinya bagian dari tujuanku. Mewujudkannya adalah keharusanku. Dan aku begitu lelah. Terlalu lelah dan kesepian.
Sebentar lagi, aku akan benar-benar kesepian. Ketika satu per satu teman-temanku menemukan jalannya, satu per satu saudara-saudaraku menemukan rumahnya. Dan ibuku semakin menua. Jika aku tidak bisa berlari lalu hanya berjalan cepat, maka semua itu memang akan benar-benar terjadi. Tapi apakah aku harus menurunkan segala habitku dan prinsip hidupku hanya demi memenuhi keinginan dunia?
Perlukah aku mengemis kebahagiaan?
Sementara aku yakin kebahagian bukan diberikan dari seseorang. kebahagian itu ada dalam kerumitan otakku, yang terselip, entah bagaimana, di tengah-tengah terpaan scene-scene hidup yang harus aku jalani.
Mengapa sepi sekali. Hanya ada lantunan lagu dari sini. Tidak sanggup menangis. Tidak sanggup. Tapi aku sungguh ingin tertawa. Entah mengapa. Mengenang masa lalu, terkadang menyenangkan. Tersanjung dan tertawa. Tapi kembali ke masa ini, nanar menatap dan tertawa. Setelah kehilangan terakhir itu....
Masih mempertanyakan : Mengapa sepi sekali di sini?
No comments:
Post a Comment