Wednesday, June 29, 2011

Dua Sisi

Oleh. Nur-“ itche”

Satu sisi terang dalam hidupku, mungkin disitulah kebahagianku berada….
Suasana pagi disekolah sudah ramai dipenuhi anak-anak yang berolahraga.
Kesha berjalan gontai menyusuri koridor demi koridor menuju kelasnya. Memang sudah terlambat lima menit, tapi si tomboy ini nampaknya tidak begitu peduli dengan keterlambatannya. Mengingat pelajaran pertama dikelas adalah pelajaran biologi oleh bu Asri.
“Pagi bu !”, dari ambang pintu Kesha memberi salam pada gurunya yang tampaknya baru akan memulai pelajaran.
“Hari ini kamu terlambat 6 menit 2 detik..”, ujar beliau sebagai balasan salam dari Kesha.
Kesha seperti tak peduli, dia hanya menanggapi dengan seulas senyum dikulum khas dia, lalu segera duduk di tempatnya.
“Kesiangan lagi ya..”, Mira sudah terbiasa dengan keterlambatan Kesha yang kesekian kalinya. Dan Kesha tak ambil peduli dengannya.
“Yeah kesiangan lagi, non”, Aryl mengejeknya dari belakang.
Kesha mencibir. Ah, pria itu…
Tiga pelajaran terlewati dengan jenuh yang membebani matanya.
Saatnya istirahat. Saatnya gank Kesha dikelas berkumpul. Bercanda…atau lebih tepatnya bergosip, mungkin…
Sambil makan perbekalan, mereka berbagi cerita dan biasanya yang paling heboh selalu tak lain dan tak bukan yaitu Mira. Itu kebiasaan mereka.
“Eh, tau nggak kemaren ya gua ngeliat Fatia ama cowok lain.”, Mira memulai pembicaraannya, “Kayaknya sih pacar gelapnya. Kasian deh, si Aryl di khianati mending juga jadian ama elu, Ta..”
Reta tersipu. Memang sudah lama ia menyukai Aryl yang jago main gitar.
“Dueeeh..”
“Hmm…”, hanya itu tanggapan Kesha, sebenarnya, dalam hatinya yang terdalam ia menyukai Aryl, tapi otak dan hatinya selalu berperang, antara logika dan perasaan.
Bahwa otaknya berpendapat tak mungkin si cool itu menyukai dirinya yang sangat biasa, bahwa hatinya berkata perasaan yang kuat ini harus dipertahankan. Namun ia lebih suka mengabaikan masalah perasaannya dan memikirkan sahabat-sahabatnya.
“Heh. Diem aja. Dasar polos..”, Tari menegur Kesha yang begitu tekunnya dengan makanan ringan didepannya.
“iya nih, elu tadi beruntung nggak dimarahin gara-gara kesiangan lagi, huu..”
“Hehehe..ah nggak peduli gua .. mending sekarang isi perut, ya gak, Des?!”, Kesha hanya terkekeh dan melanjutkan makannya.
“Ah, elu mah..”, Desta yang agak kebolot-bolotan hanya bisa tersenyum.
“Eh, tapi ngomong-ngomong si Satia udah jadian belum sih ama…”
Kesha tak lagi mendengar obrolan mereka. Pikirannya melayang jauh. Seandainya kalian semua tau apa yang gua rasain…tapi, ini memang salah gue kenapa gua merahasiakan semuanya dari mereka, sahabat-sahabatku, bodoh. Umpatnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri…
#
Sisi lain dalam hidupku yang gelap, kelam, penuh kejenuhan membuat hidupku laksana bunga yang akan segera gugur…
Cahaya matahari sore menerobos masuk dari celah-celah jendela kamar Kesha. Dia sendiri, selalu sendiri hingga larut malam pun kesendirian menjeratnya. Mungkin kesendirian akan melepaskannya jika ia memejamkan mata dan melewati malam dengan bermimpi. Seandainya orangtuanya dapat mengerti apa yang dihadapinya, seandainya tak terjadi apa-apa dalam keluarganya…
Ayahnya yang makmur sebagai pengusaha terkemuka itu telah terjerat jaring laba-laba yang ia buat sendiri. Mempermainkan perasaan seorang istri, menyakiti perasaan anak tunggalnya dengan terus menipunya, menyingkirkannya…
Ibunya. Didalam hati seorang ibu yang harus menekan harga dirinya demi anaknya, bertahan untuk membungkan segala amarahnya pada pria yang ia cintai. Mencoba menekan egonya untuk tetap mempertahankan perasaan anaknya. Tapi labilnya perasaan ibu yang dikhianati suaminya, pertengkaraan tak dapat dihindari..
Langit semakin gelap, malam semakin larut. Hampanya suasana hati Kesha. Ia berkumpul dengan keluarganya yang kini tak dikenalnya. Pedih pendengarannya mendengar pertengkaran sepasang singa dibawah rembulan yang mengutukinya. Mereka tak lagi seperti sepasang merpati yang bahagia. Kini mereka seperti sepasang singa yang siap saling menerkam.
“Apa yang salah pada diriku? Mengapa kamu lakukan itu padaku. Mengapa harus aku dan anakku yang mengalah. Seberapa binal perempuan itu? Bunuhlah aku !”, puncak emosi seorang istri dan ibu yang dikhianati.
“Kamu !!”
“Aku slalu bisa ngertiin kamu. Tapi tidak untuk yang ini !”, suara yang menyeringai dibalik pintu kamar Kesha.
Suara gelas pecah kembali terdengar untuk kesekian kalinya.
Kesha tak ingin mendengarnya, tetapi telinganya mungkin bernasib sial terpaksa harus mendengar semua perkataan kasar itu.
Menetes air matanya, menatapi rembulan yang terdiam angkuh diujung langit yang kelam, gelap dan hampa. Seakan berkata dewasa tak berarti bijaksana.
Malam selalu terasa sama. Panas, tegang, gelap…
“Aaaaghhh…”, teriakannya begitu penuh kepenatan, keras, menangis, tak kuat rasanya. Namun seakan suaranya kecil sehingga tak ada yang peduli.
Malam berganti pagi. Keadaan masih tampak buruk. Kesha memunguti pecahan gelas. Segores luka ditelapak tangannya, mengalir darah segar. Tetes air mata itu kembali mengalir….
#
Sinar matahari dipagi hari tidak terlalu terasa, langit berawan.
Perasaan Kesha saat ini benar-benar kalut. Tak siap ia menghadapi pelajaran disekolah. Hanya ingin ketenangan. Padahal hari ini ia tidak terlalu kesiangan. Kini ia berada 2 meter dari gerbang sekolahnya.
Kesha berbalik arah berjalan bukan menuju sekolahnya. Mengikuti kata hatinya yang kalut. Tak sengaja Aryl melihatnya, sejenak ia tertegun. Rasa heran dan khawatirnya melihat wajah Kesha yang tak ceria. Memang bukan siapa-siapa, tapi ia merasa seorang teman sedang membutuhkan bantuan. Akhirnya…
Kesha dihadang segerombolan preman.
“Halo manis sendiri aja…”
“Bareng kita yuk..”, goda salah satunya.
Dengan sigap Aryl yang sejak tadi mengikutinya langsung mendekati Kesha dan ..
“Aryl…!”, Kesha begitu kaget dengan kedatangan Aryl yang kini sedang menolongnya. Tak berpikir lama ia membawa lari Aryl yang nyaris babak belur.
Tidak percuma Kesha mendapat juara lari tingkat SlTP. Toh, bermanfaat juga.
Mereka sudah jauh dari preman-preman itu. Keadaan sudah mulai aman walau
harus tetap waspada. Mereka istirahat ditaman kota..
“Eh, Ryl kok elu ada disini sih??”, napas Kesha masih tersendat-sendat.
“Soalnya kamu bawa aku lari secepet itu…”, jawab Aryl enteng.
“Bukan, maksudku…”
“Eh, Kesh. Elu kok tadi bukannya masuk ke sekolah malah…”, Aryl memotong.
“Nggak, pengen aja. Nah elu kenapa nggak masuk sekolah ?”, Kesha balik bertanya.
“Kalau gua jelas mau ngikutin elu. Lagi ada masalah ya?”
Sejenak keduanya diam. Hening.
“Seandainya elu mau denger..”
“Gua mau denger!”
Kesha menatap lekat Aryl. Lalu..
“Keluarga kamu pasti bahagia. Semua orang saling menyayangi, tidak ada yang saling mengkhianati…”, kata-kata Kesha begitu mengherankan.
“Maksudmu…”
Kesha menarik napas. Ia mulai berbicara, kata-katanya mengalir begitu saja menceritakan masalah keluarganya pada orang yang tak dekat. Tangisnya meledak, ia mulai meninju-ninju pohon yang sejak tadi menaungi mereka.
“Bodoh, bodoh…”, ia megutuki dirinya.
Aryl segera menghentikan tindakan Kesha. Menarik tangan Kesha. Ditenangkannya Kesha..
“Aku tak pernah menyangka Kesha yang ceria itu memiliki beban masalah yang begitu berat..”, Aryl menggenggam tangan Kesha.
“Bodoh, kenapa aku harus bercerita pada cowok yang aku suka..”
“Maksudmu…?”
“Ah, sudahlah..aku ingin sendiri…”, kembali Kesha meninju-ninju pohon yang tak bersalah.
Aryl gusar, menarik tangan Kesha kembali dan memeluknya. Mengelus kepalanya dan menenangkanya.
“Kamu tau, dunia ini tidak selalu terang. Siang akan berganti malam. Terang akan berganti gelap. Begitu juga duniamu terus berputar, berotasi, dari terang ke gelap, gelap ke terang. Itulah hidup, Kesh. Tak ada yang sempurna karena kita tak hanya punya satu sisi tapi punya dua sisi kehidupan. Sisi itu buruk dan baik..”, Aryl tetap memeluk Kesha.
Perasaan Kesha tenang mendengarnya. Seperti ada cahaya penolong hidupnya.
“…Tergantung kita. Apa tujuan hidup kita. Kita tidak bisa merubah takdir tapi kita bisa menyelamatkan hidup kita. Jangan hanya memandang hidup dengan sebelah mata, pandanglah dengan dua matamu. Kau bisa lihat dunia tak sesempit yang kau bayangkan…”, lanjut Aryl.
“Bisakah aku?”
“I m by your side to help you. Always…”
Kesha begitu terharu, “Tapi, kamu punya kehidupan, pacar, temen, dan keluarga..”
“Hmm, ya. Kemarin kami putus menyedihkan. But, anyway satu hal aku jujur, sudah sejak lama aku mengamati kamu, tapi baru kali ini aku merasa mengamatimu..dua sisi hidupmu...”
Mendengarnya, air mata Kesha menetes. Perasaanya setenang suasana taman…
“ Berjanjilah,pandanglah hidupmu sebagai kebahagiaan. Jalani hidupmu terus. Biarkan orangtuamu menyelesaikan masalahnya dengan pikirannya sendiri...”
Ya, aku berjanji. Aku akan mengubah hidupku yang kelam hingga aku bisa mempertahankan hidupku. Dua sisi dalam hidupku adalah anugerah. Begitu juga kedua orangtuaku. Akan kupersatukan mereka…
Thanx’

Thursday, June 23, 2011

sendiri

Kuhirup napas terpendar
Bumi terkulai lemas
Dirangkul gelap malam
Duduk seorang anak manusia dalam diam dan kesendirian
Bukan tak beralasan
Hanya ingin menunggu ia
Yang tak pernah kembali pulang
Ia yang tidak pernah terdengar lagi nafas dan rayuannya
Seorang anak manusia
Mengikat asa untuk berbicara
Lepaskanlah aku dari kesebatangkaraan
Meski dengan hatinya, kosong tak ayal mengerang
Dan ketiadaan memusnahkan
Lepaskan aku Sendiri!

Brother and sister

We both are miracle
Don’t you know?!
When you feel upset
Just listen your voice within
We both are stars
Can’t you see?!
Our faces is shinning
Under the sky...
We both can’t be seperated
Even the moon change the sun

Sunday, February 6, 2011

wanita dengan 1001 cerita: One step To forgive

wanita dengan 1001 cerita: One step To forgive: "hari ini saya menonton acara Kick Andy. seperti biasa acara ini mengangkat hal-hal tentang kehidupan yang dikemas dengan menarik, ringan, da..."

One step To forgive

hari ini saya menonton acara Kick Andy. seperti biasa acara ini mengangkat hal-hal tentang kehidupan yang dikemas dengan menarik, ringan, dan bermakna. temanya kali ini "seks bebas di kalangan remaja".
tema ini memang tidak langsung berhubungan dengan hidup saya karena saya tidak pernah brpengalaman dengan seks bebas. tapi ada satu segmen yang mengulas mengenai latar belakang adanya seks bebas yang salah satunya adalah faktor "rumah" atau keluarga.
di sisi itu lah saya merasa sangat tersentuh.
semua orang dekat saya tahu, saya tumbuh dari keluarga yang runtuh. saya tidak pernah tahu mengapa itu terjadi, saya pun rasanya tidak mau tahu sekarang. lelah untuk selalu menduga-duga apa gerangan yang terjadi dengan mereka yang saya lewatkan.
yang saya tahu adalah saya harus segera memaafkan segalanya jika saya mau terbebas dari perasaan hancur dan tidak bahagia.
tapi terkadang saya bertanya, bagaimana saya bisa bahagia jika saya selalu mendampingi orang yang mendominasi hidup saya adalah orang yang tidak bahagia. dia itu mama.
she thinks she is superior. always right better than me.
semua yang saya lakukan salah. Di acara kick andy hari ini psikolog bernama ellia (saya lupa nama panjangnya) orang tua seharusnya juga berkaca, jangan selalu melihat sisi negatif atau kesalahan si anak. anak itu butuh VALIDASI. anak juga butuh pujian, butuh pengakuan, dan butuh dimengerti. psikolog itu juga bicara orang tua harus terus belajar untuk mendidik anak bukan dengan cara mereka dulu dibesarkan. kita hidup di era digital dan era yang jauh berbeda dengan masa lalu. lalu mengapa mama saya terkungkung dengan didikan masa lalu dan membuat saya selalu terpojok dan salah dalam segala hal yang saya lakukan di depannya atau tidak di depannya. back and forth am doing wrong.
then i learned myself to be right to be wrong.saya jadi benci dengannya dan saya menutup kuping saya terhadap semua omelannya. saya marah. dia seolah menyalahkan saya terhadap berbagai hal, dia tidak pernah bersyukur akan keberadaan saya. dia hanya berpikir "saya benar saya mengatakan ini. saya benar saya melakukan ini" she never ask me how my truth feeling is. Yang dia pikirkan adalah bagaimana saya benar menyapu, bukan bagaimana saya belajar di sekolah, yang dia tanyakan hanyalah sudah makan atau belum, bukan enak tidaknya makanan itu, yang dia mau saya mengerti dia bahwa semua omelannya dan kekangannya itu untuk kebaikannya dan baginya yang terpenting tidak pulang malam karena malu sama tetangga, daripada menanyakan bagaimana acara mainnya?what's going on with friends?, dia memaksa saya untuk menceritakan bermacam hal, tapi dia bertanya seolah menginterograsi. dia bahkan tidak tahu perasaan saya sedang bagaimana sementara teman2 saya langsung tahu dari raut wajah saya perasaan saya sedang apa padahal saya tidak pernah bercerita. she asked me to be her friend but she never be a good mom. i'm not a good child indeed. but i never require her to be my friend. saya hanya berharap dia tidak mengganggu saya di saat sedih. itu sedikit dari harapan saya(ketika saya masih sangat kecil itulah harapan saya).
i try my best to deal with it. saya pikir saya ditakdirkan menjadi anaknya. Allah ga pernah salah. saya yakin saya diturunkan untuk sesuatu. mungkin untuk ibu saya.
saya hanya ingin menjadi seseorang. dan saya ingin memiliki mimpi dan saya ingin sebuah keluarga itu harapan besar saya sebenarnya. mungkin itu sebenarnya cita-cita saya. dibanding memikirkan mau jadi apa di sebuah perusahaan atau menjadi siapa di dunia ini. saya hanya ingin menjadi bagian dari keluarga. tertawa, menangis, dan berkumpul tanpa perasaan benci, menyesal, dan praduga yang tidak terjawab.

to be at home and around small happy family is might be my dream. And i promise to make it real.