Saturday, November 20, 2010

untuk malam

untuk malam,
aku akan memberikan sebuah cerita panjang tentang apa yang terus memenuhi pikiranku. aku terus menganalogikan isi pikiranku bagaikan sebuah pasar tradisional yang semeraut, riuh akan banyak orang.
aku adalah seseorang. anggaplah aku seseorang dengan status sarjana namun tetap dipandang berstatus SMA. aku seseorang yang tidak memiliki mimpi (lagi) karena takut akan mimpi, karena takut tidak bisa menggapainya, mungkin aku punya mimpi, tapi mimpi itu tidak lebih dari sebuah mimpi orang lain. menjadi PNS. aku tertawa, silakan jika ingin tertawa. itu bukan cita-citaku tapi cita-cita orangtua. bagaimanapun aku menolak tapi entah bagaimana aku secara tidak sadar akan mengikutinya. aku adalah manusia tanpa mimpi. yang ingin aku raih adalahmenjadi mandiri. tapi aku tidak memiliki pekerjaan. aku hanyalah mantan mahasiswa dengan jurusan yang sangat kecil lingkup kerja yang tersedia. aku harus berjuang mencari. bekerja tanpa dasar bukanlah pilihan yang enak. orang di kantor menganggap remeh. padahal aku juga ingin diberi kesempatan. bukan karena aku memiliki sedikit tampang tapi karena aku memang bisa melakukan sesuatu dengan otakku.
orang mungkin menganggap aku bodoh. hal itu mungkin juga. tapi mungkin juga tidak. aku sendiri tidak tahu apakah aku cerdas atau aku bodoh. yang aku tahu aku telah melewatkan berbagai psikotes dan aku tidak pernah bisa melewatinya. pengalaman kerja selama 3 bulan tanpa kontrak yang telah aku putus tidak membuat riwayat hidupku lebih baik. mungkin ada yang salah dengan otakku. mungkin opini seorang dosen itu benar juga. mungkin....mungkin juga tidak.
bagaimana aku bisa menghadapi dunia ini. aku bahkan harus menghadapi bahwa aku orang yang gagal.
anggaplah aku memang gagal dalam segala hal.
kehidupan keluarga. kehidupan cita-cita (impianku). kehidupan dengan otakku. kehidupan akademisku. kehidupan cintaku (karena aku manusia biasa).
marilah anggap begitu. dan anggap itu nasib yang bisa diubah.
maka apa yang harus diubah dan bagaimana.
aku ingin sekali menganggap semuanya hanya kebetulan dan kebetulan aku gagal lagi. aku ingin terus menganggap kalau memang nantinya aku akan medapatkan masa jaya yang tidak akan pernah turun hingga turunan kedelapan.
tapi uang tabunganku (hasil menabung dan gaji selama 3 bulan kerja) semakin menipis. orang tua yang sejak kuliah semeseter-semester akhir meraung-raung dan mengeluh mengenai menipisnya tabungannya (yang hanya dari pensiunan PNS) membuat aku semakin tertekan dan tidak berguna.
menangis jelas bukan solusi. karena jika menangis hanya akan menghasilkan bengkak mata bukan uang.
tapi aku siang ini memutuskan untuk membiarkan aku menangis di malam hari dan menjadi woman fighter di siang hari.
aku merasa sangat sepi.
benar-benar sepi.
kadang aku hanya ingin berpikir sangat pendek untuk menerima lamaran seseorang hingga aku tidak lagi menjadi tanggungan orangtua lagi dan berhenti mendengarkan keluhan-keluhan yang terus menyayat otak, nadi, hingga perasaanku. i'm just a woman, could be so sensitive.
tapi aku terus menepis bahwa apa yang aku miliki sekarang adalah anugerah. aku sekuat tenaga harus percaya itu. aku harus menepis semua pikiran jahat mengenai ini salah dia (Bukan Tuhan) yang berani menggugat dan berjalan sendiri menghidupi kami, ini salah si ayah yang membiarkan dia berjalan sendiri dan bersikap sangat tidak baik. aku ingin menyalahkan banyak pihak atas semua yang aku lakukan. tapi aku akan semakin bodoh jika memikirkan itu terus. atau memang salahku sendiri ya?
semua langkah yang aku buat adalah menuju kepada kesalahan.
aku tidak memiliki pilihan selain menjalankan ini semua. tanpa keinginan. dan itu berarti menjalani setengah dari hidup. aku merasakan kesenangan namun aku tidak mendapatkan kebahagiaan. meski dalam diriku tertanam pikiran bahwa kebahagiaan bukan orang lain yang ciptakan tapi dalam diri sendiri itulah kebahagiaan dapat tercipta.
sungguh, bukan tidak ingin menciptakan keinginan untuk bahagia. namun tidak adanya stimun untuk menjadi itulah.
sungguh, aku hanya seorang wanita yang meski bukan sekarang tapi cepat atau lambat ingin menyandarkan pada seseorang yang memberikan kepastian, bukankah itu tidak terlalu berlebihan? tapi aku tidak punya itu.
sekali lagi aku hanya menjalankan. benar-benar hanya menjalankan apa yang ada.

mengutip dari sebuah kisah (kisah diri sendiri sehingga tidak ada yang perlu tersinggung). seseorang berkata padaku "aku serius menjalaninya. tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun"
dan aku ingin mengatakan "aku sudah lelah. ini bukan yang aku mau. tapi aku tidak memiliki banyak pilihan. paling tidak aku bisa mengembangkan imajinasiku jika suatu saat aku mendapatkan kepastian. karena sejak kecil aku merasa sangat kacau, semuanya tampak kacau, jika orang-orang menganalogikan kehidupan itu seperti sebuah buku, maka aku merupakan buku yang bertuliskan kekacauan. aku terjebak dalam situasi yang tidak enak. tidak memiliki eyang yang bisa menjadi tujuan berliburku. tidak memiliki orangtua yang bisa mengontrol emosinya. tidak memiliki orang yang bisa dituju ketika merasa gusar dan gundah. tidak memiliki sandaran pundak untuk menangis sesenggukan. tidak bisa meminta terlalu lebih karena tidak punya banyak uang. tidak bisa mengajak main kakak karena dianya terlalu sibuk dengan kekecewaan dan pelariannya atas kesedihan. aku ingin membanggakan mereka-mereka di hadapan teman-temanku tapi aku terlalu banyak patah hati karena mereka. aku pernah meminta untuk tidak bisa menangis lagi karena menangis itu melelahkan, tapi jika aku tidak bisa menangis aku merasa sangat sesak dan sakit kepala sehingga rasanya ingin melubangi kepalaku agar bisa bernapas. sejak dulu aku berharap bisa segera lulus sekolah agar aku bisa dapat kerja dan menjadi mandiri lalu pergi dari sisinya. tapi kenyataannya pekerjaan bukanlah perkara mudah apalagi dengan tren psikotest yang lagi banyak berkembang di setiap perusahaan. aku hanyalah seonggok manusia sarjana tanpa kejelasan. nyatanya, aku hanyalah seorang manusia yang ditakdirkan harus menjaganya. sehingga aku tidak bisa bermimpi ke luar negeri, menjelajah pulau, mencari uang untuk bepergian jauh, aku hanyalah seorang perempuan muda yang sepanjang hidupnya nanti direncanakan akan ada di sisi ibunya yang semakin sering mengeluh. bahkan aku tidak berani bermimpi memiliki rumah sendiri dengan suami (yang entah siapa) dan hidup dengan tenang. yang aku punya adalah mimpi nyata mengenai tinggal untuk menemaninya. itulah aturan main kehidupanku. dan kamu tidak sanggup berjanji apapun karena kamu tidak memilki apapun untuk dijanjikan adalah ungkapan yang jujur sekaligus menyakitkan. dan kamu hanya menginginkan aku berdasarkan alasan apapun yang tidak tahu berujung kemana, that's nice but doubtless."

nov '10

No comments:

Post a Comment