Thursday, September 5, 2013

Hari Ini, Pak Soeharto...

Hari ini saya nonton tv....
horeee.. akhirnya merasa nyaman nonton tv, meski sejenak saya melepas kekhawatiran-khawatiran  saya akan peke
rjaan saya. Jangan salah kira, ini bukan dedikasi tinggi terhadap perusahaan. Ini merupakan ego saya untuk menjadi perfect, dengan indikator keberhasilan versi saya sendiri.

Oke, kembali pada acara tv tersebut...
Malam ini, Saya menonton stasiun tv yang mengangkat tema sisi historikal dari sosok Soeharto (kira-kira begitu tema yang saya tangkap). Terus terang saya memang tidak terlalu mendalami politik dan tidak menyukai sejarah, tapi sedikit banyak saya memahami situasi negeri ini, paling tidak secara logika saya yang tidak terlalu wah ini. Saya juga bukan pengagum para tokoh negara, semua biasa aja. Mungkin agak lebih nilainya untuk Pak Soeharto. wajar saja, saya lahir pada masa jayanya menguasai negeri ini.
Dimana tarif bus kota 50 perak. indomie paling mahal 500 perak (itu udah saya bilang mahal). uang jajan saya itu ya 100 perak waktu SD udah bisa beli macem2, terkadang ya kembalian 50 perak, saya tabung (hobi memang itu nabung hahaha...). Beliau sih memang saya rasa korupsi. Hey, What you expect dengan kekuasaan tanpa batas dengan lama jabatan yang panjang dan selalu diangkat lagi diangkat lagi sampai akhirnya -saya ingat banget- pas mau lulus SD ada momentum sejarah yang dikatakan orang "REFORMASI"

Keren itu nama, swear, serius, deh... untuk anak umur 10 taunan lebih kata REFORMASI itu sangat keren. COOL!
Saya dulu tidak begitu keep in touch sama google,yang saya tangkap reformasi itu ya PERUBAHAN itu. perubahan ya pekerjaan saya sekarang sebagai konsultan perubahan (yang mana effort nya sama project agak nyaru, ini dibahas belakangan). Perubahan itu ya, bagi saya kehancuran kerajaan Cendana, means, Pa Soeharto secara legowo atauuu.. secara terpaksa turun tahta digantikan Bapak BJ Habibie yang semula wakil presiden mendampinginya. entah menggunakan dasar hukum apa pak Soeharto memilih mengambil resiko dengan mengangkat Pak Habibie sebagai presiden langsung tanpa pemilihan ketimbang membiarkan kursi itu kosong dan siap diperebutkan oleh banyak pihak. Bagi saya, perubahan itu sekarang lebih pada unfinished restructured, perubahan yang ngga beres-beres. Macam amatiran yang sedang membangun negeri tapi kehilangan fokus di tengah jalan jadi membangung kerajaan masing-masing.
Jadi, ceritanya, ada sebuah gerakan Panitia45 yang mengajukan Nama Soeharto sebagai nama jalan, setelah sebelumnya sudah disepakati nama Soekarno-Hatta, yang tanpanya kita katanya tidak akan merdeka secara de facto dan de juro- akan menjadi nama jalan di salah satu jalan ibu kota. Pengajuan itu pun jelas-jelas ditolak kebanyakan aktifis, dengan alasan Bapak Soeharto merupakan koruptor besar di Indonesia dan katanya dunia dengan peradilan yang tidak selesai karena beliau sudah keburu meninggal.
Yang membuat gusar adalah bukan karena tidak jadinya tokoh semasa kecil saya menjadi nama jalan, bagi saya nama jalan itu tidak penting sama sekali, toh, di pikiran saya Bapak Soekarno dan Ibu Tien adalah presiden dan istri presiden yang paling melekat di sejarah kehidupan saya sejak kecil , tokoh super yang saya banggakan setelah kakek saya, tidak perlu lah pengakuan dunia atas itu dengan dijadikan nama jalan atau ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pengakuan-pengakuan itu hanya sebuah tulisan belaka tanpa arti apapun, toh, ketika saya nanti punya anak saya akan menceritakan betapa dulu Indonesia lebih terkendali dari jaman reformasi sekarang. Yang membuat gusar saya adalah pandangan yang tidak duduk sama rata, tidak sejajar, not align, bahwa mantan presiden soeharto ini yang paling belangsak, koruptor kakap, tokoh dibalik pembantaian 3000 jiwa, dan lain dan lain dan lain sebagainya....
Bagaimana para aktifis itu segitu giatnya menguak cacatnya masa Soeharto tapi seolah membiarkan Soekarno pula. Sama hartanya masih banyak sekarang. I mean, Soekarno-Hatta memang Proklamator, gagah sekali mereka membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Nama mereka segera menjadi nama jalan, lalu bukan berarti mereka dulu tidak melakukan blunder atas nama negara, bukan? Ini hanya sebuah nama jalan, katakan lah dia korupsi, audit lah seluruh keuangan anak cucu buyutnya hingga selir-selir anak-anaknya itu, bukan menjegal penamaan jalan seolah-olah Soeharto tidak pernah punya arti dan andil apapun terhadap negara ini. Jalan-jalan layang yang mereka (para aktifis kaya) dengan mobil-mobil mewah mereka itu adalah jalan yang diciptakan pada masa orde baru. Taman Mini yang luas yang dulu ditentang kini menjadi kebanggaan Indonesia ketika orang asing bertamu ke negeri ini dan mengunjunginya.
Tanpa Bapak pembangunan itu dianggap ikon korupsi, negara ini ya korupsi-korupsi juga. Lebih massive pula sekarang gerakan korupsinya, tanpa malu, saling serang, saling lempar bola panas, saling tuding. Tidak perlu bahas yang tinggi-tinggi bahkan untuk level terendah dalam organisasi masyarakat saja, ketua RT bisa lenggang korupsi kas warga.
Panjang lebar dan intinya, over reacting terhadap budaya korupsi yang terlanjur menjadi di negeri ini jangan menyamarkan nilai-nilai positif dari orang-orang yang sedikit banyak telah memberikan perubahan secara nyata infrastruktur dan juga ide-ide ideal kehidupan. setiap pemimpin punya gaya masing-masing, terlepas dari keidealan seorang pemimpin. Soekarno yang diplomatis, hebat dalam melobby, Soeharto yang otoriter, sangat jago menekan lawan, tackle hero, Habibie yang cerdas, pemikiran tajam, dan visioner (sehingga pemikir2 lelet Indonesia tidak bisa menangkap visi dan misi besar Habiebie), dan yang terakhir yang agak cengeng dan sangat drama (sesuai dengan karakteristik bangsa indonesia sekarang dan terutama generasi muda sekarang), drama nya drama korea malah mendayuu-dayuu saranghaeyo banget... Dialah Bapak SBY,
semendayu-mendayunya Bapak Presiden ini , tho, terlepas beliau juga korupsi atau tidak, paling tidak...mmmm... bingung,,,,, stuck,,, paling tidak apa ya,,,,,,program kerjanya yang paling sounding ya, Gerakan Anti Korupsi, yang para tokoh di kampanye nya sekarang banyak yang masuk bui juga sih....mungkin ngga bisa jadi nama jalan juga ya, pak, 10 tahun ke depan. :D

Bagi saya negara ini seperti lelucon. Sebagian berjuang untuk negerinya, sebagian berjuang untuk komunitasnya, sebagian lagi malah bingung mau berjuang atau hanya nonton saja. Saya mungkin termasuk yang bingung, atau mungkin saya termasuk yang berjalan perlahan menuju perubahan. Korupsi memang jadi budaya, tapi ada saatnya mungkin orang akan jengah, dan roda memang berputar, optimis saja.

Yang jelas berubah tidak perlu dimulai dari yang kecil-kecil saja. Jika bisa melakukan langkah besar maka lakukan langkah besar, tapi.... kalau sanggupnya langkah kecil ya langkah kecil aja. Kalau mau jadi super hero kesiangan dengan jadi aktifis demo atau aktifis yang lain-lain itu ya, monggo, tapi yang pasti jangan ujung-ujungnya malah memecah belah negara, sih, ya, bergerak cepat bagus, tapi serampangan bisa blunder.
kalau belum punya pemikiran secara meluas, mending jadi pegawai yang baik di jalan Soedirman situ, ngga pake kesiangan karena macet-macetan sama mobil bagusnya.

Life is good when we change everyday to be a better and better person. But life is still good when we keep our heart and brain in their place.

          

 to be continue another story...








No comments:

Post a Comment