Thursday, September 27, 2012

Senja Untuk Malora

I Bagamana harus aku mulai cerita ini? Memulai cerita tentang sore yang indah di awal desember yang tidak aku ingat. Memulai cerita dari hari sial yang terjadi di pagi hari. Lalu awal apa yang harus aku ceritakan? Tentang cerita-cerita sedih kolokan? Atau kisah cinta yang tidak pernah bisa disadari datang dan perginya? Mungkin aku tidak tahu mengawali dengan apa, tapi mungkin aku tidak perlu mengawali dengan apapun. Aku tidak sedang menjual ceritaku tentang semangat atau tentang romantisme. Aku manusia bebas yang merasakan, memikirkan, menginginkan, dan menceritakan. Dan mungkin sebaiknya aku bercerita sekenanya dan seenaknya, hingga nanti para sastrawan perlu memprotes kehadiranku di kancah sastra dan pemerintah melarang keras menerbitkan bukuku, dan mungkin juga tidak ada penerbit yang suka menerbitkan tulisan murahan ini. Namaku Malora. Aku seorang anak manusia. Anak tunggal dan masih menjabat sebagai mahasiswi kupu-kupu –kuliah pulang-kuliah pulang – dan sedang menjalin hubungan dengan mahasiswa angkatan atas. Ibu saya adalah seorang single parent, single fighter, single life, totally single. Pekerjaannya mengaji dan beberapa kegiatan lain yang cukup menguras tenaga. Seorang veteran PNS alias pensiunan. Dulu aku punya seorang kakak laki-laki, seorang, tapi sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan kecil yang fatal melayangkan nyawanya. Keluarga yang kecil ini semakin kecil dan semakin rapuh. Kata siapa cobaan hidup itu menghasilkan ketegaran yang lebih. Mungkin benar dan mungkin salah. Dalam dunia sekarang yang penuh manipulasi dan keegoisan, aku menyangsikan adanya kemudahan hidup. Tentu saja setiap orang mulai berhalusinasi akan sesuatu yang lebih mudah Perkara menjadi dewasa dan menjadi tidak egois adalah perkara yang sulit. Hidup yang rumit. Pengalama yang sering kali tidak menyenangkan. Harapan yang terlupakan. Diri yang dilihat setengah mata. Hidup memang tidak mudah. Dunia ini yang tidak mudah. Manusia yang telah terlahir dan dewasalah yang tidak mudah. Mungkin juga peraturan yang tidak mudah. Mengejar mimpi seperti berlari mencari polaris. Diantara harapan, bertahan hidup, dan ketidakmengertian diri membuatku terjebak dalam setiap rutinitas dan norma-norma yang entah bisa kuterima dengan kesadaran penuh dari hati. Yang kutahu aku harus menjalani ini apapun keadaannya. Malam ini aku kembali berkutat dengan laptop usang yang kupunya. AH, tidak, laptop inilah yang paling setia menemaniku kemana-mana. Laptop inilah yang menemaniku merangkai kata-kata yang tidak pernah bisa aku ungkapkan dalam lisan. Secangkir kopi susu ABC buatan ibu Janah di warungnya yang sederhana. Siapa bilang ide harus datang dari tempat yang nyaman hening dan luxurious? aku tengah berada dalam sebuah warung kecil milik Pak Sujana. Pak Sujana dan Bu Janah (sebenarnya harusnya Ibu Sujana pula, tapi aku senang memanggilnya BU Jana saja lalu kutambahkan "H" dibelakang agar menggenapi namanya dan lebih enak terdengar, mereka pemilik warung yang sering kudatangi ini. Di sini lah ide lebih sering muncul, di sinilah aku sering mendengarkan cerita-cerita tentang hidup dari Bapak dan ibu sujana, atau bahkan dari para pelanggan setianya yang tidak lebih dari para pekerja kasar di pinggiran kota, tapi mereka sopan, mungkin karena aku juga sopan pada mereka, atau mungkin saja mereka cukup segan dengan Pak Sujana yang selalu menganggapku anaknya. Malam ini warung ini cukup sepi dibandingkan malam-malam biasanya. Hanya ada aku bu Janah dan Mang Rojak satpam dari Gedung dekat sini. Mang Rojak sedang bercerita tentang rencana buruh-buruh yang akan mendemo senin depan, ketika mama meneleponku menanyakan dimana aku berada. aku selalu menjawab berada di tempat lain tidak di tempat ini. Nada suaranya selalu seperti sedang kesal, padahal pertanyaannya hanyalah pertanyaan simpel yang seharusnya tidak membawa moodku jatuh terperosok. Aku tidak tahu apa yang salah pada setiap hari-harinya. Mungkin juga tidak mau tahu. Seharusnya pengajian membuatnya lebih tenang dan bahagia, tapi mungkin itu saja tidak cukup baginya. Ah, mama... Aku kembali mendengarkan Mang Rojak yang bercerita dengan menggebu-gebu sambil terus menyeruput kopi susunya plus mie rebus telor buatan yang masih mengepul. AKu menyunggingkan senyum setiap kali dia memalingkan wajahnya padaku, seolah mengajakku turut serta dalam percakapannya dengan Bu Janah. Aku memperhatikan mimik Bu Janah yang selalu tampak antusias mendengarkan orang berbicara padanya. Dia adalah sosok ibu-ibu yang nrimo, tenang, dan tidak neko-neko, ya barangkali tidak ada pula yang bisa beliau neko-neko-i. Menikah dengan Pak Sujana dan hidup susah payah di kota besar ini dengan keempat anaknya yang sempat terpencar-pencar karena saking sulitnya mereka hidup. Bu Janah pernah sedikit bercerita tentang kehidupannya sebelum membuka warung ini. Beliau jarang sekali bercerita. Pak Suj lebih banyak bercerita, beliau lebih cerewet dan senang sekali bercerita. Sangat bertolak belakang dengan Bu Janah yang bercerita sedikit dan jarang. Tapi aku suka dengan caranya tersenyum dan menatapku, seolah bumi hangat dan tidak semenyedihkan yang kurasakan di luar sana. Begitu pun caranya bercerita, sangat tenang dan hampir tanpa emosi. Beliau bercerita, ketika dirinya dan Pak Suj akhirnya memutuskan urbanisasi ke kota besar dan dengan berat hati harus memilih salah satu anaknya yang ikut serta pergi. Sisanya, beliau harus menitipkan pada neneknya dan adiknya Pak Suj yang cukup mampu menampung ketiga anak mereka. Hidup itu adalah pilihan. Begitu kata orang bijak. Memang pilihan. Dan pilihan itu adalah pilihan-pilihan sulit yang harus,mau tak mau, dipilih dan dijalani. seperti kepiluan yang harus dibayar ketika mama harus memilih membiarkan kakakku lepas darinya atau mengusahakan dirinya tetap hidup meski tahu akan menyulitkan hidup kakakku jika dia dipaksa untuk bertahan dengan hanya mengandalkan alat-alat medis itu... Kakakku...

No comments:

Post a Comment