Meski ini terdengar terlalu berlebihan.
Kehilangan sepertinya menjadi momok yang menakutkan. Maka ketika seseorang- yang bahkan kuragukan perasaannya- yang hadir meski tak utuh dan akhirnya akan meninggalkanku nanti - mungkin-, rasanya aku merasa hancur. Seperti sebuah fobia akan sesuatu, merasakan ditinggalkan oleh sesuatu atau seseorang membuatku sangat hancur dan sedih. Sehingga, secara berlebihan ini semua terlalu dibesar-besarkan.
Merujuk pada saran seorang temanku, untuk tetap fokus pada kualitas hidupku dulu. Bukan terlalu ngoyo mencari pendamping. dan katanya (yang membuatku terkikik kadang) berkerudung bukan untuk mencari jodoh, apa pula itu.
Membahas tentang berhijab sedikit. Setelah bergelut dengan hatiku selama sekitar 20 tahunan hidupku di dunia ini. Aku akhirnya mengalah pada hatiku (dengan tidak meninggakan otakku tentu) untuk menutup hijabku, meski itu masih belum sempurna. Tetapi suatu saat, mungkin langkah ini akan menanjak ke atas, kembali pada jalan Tuhan yang aku yakini. Bukan arus dunia yang terus berubah dan mengaburkan. Aku terus mencari ke dalam diriku apa yang bisa membuatku damai. Meski hijab ini sudah menyemat dalam kepalaku. Tapi tidak serta merta efek itu terasa, yang paling aku rasakan adalah aku merasa lebih menjaga hati dan diri. Semoga Tuhan dan alam ini menjaga aku. Demi Tuhan, ini barulah awal. Ber-Hijab.
Kembali pada pembahasan Saturday Noon, tentang seseorang yang hadir dalam diriku. Anno, sahabat baikku, mengatakan aku hanya perlu bersabar, memusatkan hatiku untuk pekerjaanku, mendekatkan diri pada Tuhanku, Allah SWT, dan tidak membiarkanku berlarut-larut pada cinta sesaat, hubungan yang menyakitkan, orang-orang yang membuatku merasa lelah.
Dia pun menyampaikan padaku, untuk bersabar menanti seseorang yang membuatku untuk mau hidup. Ya, benar sekali, menemukan seseorang yang dapat membangkitkan semangat hidup setiap harinya, memberikan inspirasi untuk bangun di pagi hari, bersemangat untuk menanti sore, tanpa harus menunggu harapan-harapan kosong darinya, Seseorang yang memberikan lembayung bahkan setelah hujan yang dilalui. Memberikan kehangatan pagi dan menyejukan seperti hawa subuh sebelum pagi. Dia mengatakan untuk aku bersabar tanpa harus terburu-buru menganggap orang-orang yang datang mungkin orang yang aku cari, padahal mungkin itu hanya euforia akan penantian, bukan sebuah core dari apa yang aku cari.
Tapi itu terkadang sulit, karena ketika aku tidak mengacuhkannya dan nantinya mereka menyerah dan meninggalkanku, meski hati ini tidak sepenuhnya aku berikan pada mereka, tetapi perasaan ditinggalkan yang menjadi fobia baruku ini akan menyerang. Penyakit Psikosomatisku akan kambuh, dan, percayalah, itu melelahkan, sangat melelahkan, ketika napsu makan menjadi hilang, lidahku menjadi kelu, kerongkonganku menjadi gersang, meski berliter-liter air telah kutenggak. dan ketika pikiran menjadi teralihkan dan terpusat hanya ingin menikmati icep-icep. Itu memuakan. Percayalah.
Bahwa wanita Indonesia yang memang tinggal di Indonesia ini harus menjaga tradisi turun temurun yang terimplementasikan dalam tindak tanduknya. Bahwa batasan itu dimana-mana hasil percampuran budaya timur dan tentu yang tidak terelakan aturan agama. Ini menjadi suatu kegilaan.
Membaca buku kajian budaya feminis milik aquarini (yang diberikan seseorang dari masalaluku) bahwa wanita indonesia selalu terbentur berbagai hal mengenai tradisi dan budaya ketimuran, menyadarkanku bahwa lelah itu bukan milikku saja. Bahwa amarah itu ada mungkin dalam beberapa hati para wanita. Bahwa wanita ingin diterima sebagai manusia yang tidak sempurna, bukan wanita sempurna dengan setumpuk kesabaran dan ketabahannnya, sehingga lupa bahwa wanita yang manusia ini juga perlu untuk menangis dan meradang.
Aku seharusnya tidak perlu lari dari kenyataan, bahwa teman-temanku mungkin akan segera meninggalkanku dalam pernikahan mereka, dalam kesuksesan karier mereka, dalam hubungan yang sudah kuat dengan pasangan-pasangannya, dalam penemuan mereka akan sebuah lembaran masa depan. Aku harusnya menemukan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, menggandeng diri sendiri, berjalan perlahan pada satu titik di depan. Meski titik itu belum bisa aku lihat.
Jika seseorang meninggalkanku, seharusnya aku meyakinkan diriku bahwa akan ada yang datang lagi. Lalu, jika aku bisa menyadari ini mengapa aku masih tidak bisa menghilangkan trauma akan kehilangan, Fobia feeling abandoned. Bahwa menangis merasa sakit itu alami dan akan terjadi terus hingga mati. Lalu mengapa ada ketakutan berlebih dalam diriku? Cinta itu akan datang dalam bentuk apapun, ah, tidak, cinta itu sudah ada dalam hatiku terhadap hidupku. Aku hanya perlu menyadari itu.
Hujan turun di kota besar ini, hawa panas masih terasa meski berkurang. Aku merindukan sebuah kota dengan pelangi, seseorang akan membawaku pada kota itu, seseorang akan datang padaku dan merangkul aku pada tempat yang aman, menyandarkanku dalam kenyamanan, merendam kekhawatiranku akan segala hal. Seseorang itu seharusnya ada, Tuhan telah menciptkannya, aku hanya perlu.... Menemukannya.
Saturday Afternoon, membuatku semakin sadar, ini panggilan dari nurita kecil, gadis 10 tahun yang penuh khayalan, introvert, tenggelam dalam buku dan komik, tergila-gila akan menulis, dan aku tahu aku ingin jadi apa, sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis di tengah budaya modern dan kerumitan dunia. Meski intelektual tak seberapa, tapi menurut rene suhardono, penulis your job is not your career, bahwa passion itu is not what you're good at but what you enjoy the most.
And guess what, thanks to people who always support me to back to 'my earth' dan menyadarkankan aku menulis adalah duniaku, aku tidak perlu memaksakan diri untuk bertarung dalam medan perang yang salah. Paling tidak ke depannya. karena realita akan materi needed yang cukup tinggi.
Aku terus belajar untuk paling tidak mendekati itu dan mewujudkannya, sebelum nafas benar-benar habis.
Lalu untuk penemuan akan seseorang?
Hahahaha.... We'll see. we are not going to end this story too soon, right?
Enjoy it...
_Thanks For reading_
Je'
Fla Vanilla
sweet complements
Sabtu, 18 Mei 2013
Jumat, 17 Mei 2013
Blue Friday
Blue Friday,
Sebenarnya, hari ini adalah yellow friday dengan blue feeling. Tidur terlalu larut semalam. Pukul 02.00 dini hari yang kuingat. setelah menerima telepon dari seseorang. Hatiku menjadi sebuah lingkaran kelabu yang pekat.
Yang kuingat sebelum tertidur selarut itu kupandangi kipas angin yang berputar melambat. Mungkin kipas angin itu sudah terlalu lelah berputar pada poros yang sama setiap hari. Begitu juga denganku. Ada yang salah dengan pijakanku ini. Entah apa. selalu tidak sadar apa yang aku rasakan dan aku pikirkan.
Menurut orang sifat introvertku berbahaya. Beberapa ada yang menganggap bahwa aku adalah sanguiist, orang yang extrovert dan ceria. Itu bohong besar. Yang benar Im acting as if....
Seseorang mendukungku untuk tetap menulis, bergaya feminim. Apa yang bagus dari bergaya feminim? Menjadi feminim awalnya tidak pernah menjadi tujuanku. I always claim me as casual woman. Selalu apa adanya, bahkan jika norma tak melarangku aku akan berjalan dengan selembar kain murah terlilit asal ditubuhku dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi menjadi feminin adalah tuntutan dunia yang terlalu kejam. Untuk menjadi seseorang yang diekspektasikan oleh banyak pria dan tuntutan kultur timur yang kemayu. Belum lagi kebutuhan untuk segera menggaet pasangan untuk bersanding dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ah, terlalu mahal hidup ini. Sehingga aku tidak tahu umtuk menjadi sederhana. Tidak. Aku menangis karena aku memiliki ketakutan besar bahwa tidak ada yang akan menerima aku yang utuh lengkap dengan diriku sendiri, Manja, selfish, but full of empathize. Kekurangan tidak akan pernah menjadi kelebihan.
Sampai hari ini. Pencarian akan diri sendiri yang hilang ini masih tetap tidak utuh. Seperti merangkai puzzle gambar diri sendiri. Ini adsalah pencarian yang melelahkan.
Aku tidak pernah menyangka akan berpikir seperti ini : Bahwa menjadi mandiri itu mungkin menjadi sendiri. Aku tidak merasa bangga atau senang menjadi mandiri. Aku tidak mau menjadi sendiri. Aku ingin tertawa, menangis, dan merasakan dilindungi oleh seseorang.
Setelah kehilangan kakakku aku tidak tahu ada pria yang secara tulus tanpa embel-embel untuk tetap melindungiku sebagaimana seharusnya pria melindungi wanita.
tapi ini bukan sebuah tulisan melancholic dari seorang wanita seperti aku. Tidak pantas. Aku yang mengukur ketidakpantasan ini. Bagiku seharusnya tulisan ini menjadi jejak yang tetap hidup menggambarkan kehidupan pasca abad 21. Bahwa dunia semakin menggila. Bahwa mata semakin kabur. Bahwa tidak ada cinta yang menggebu-gebu, Bahwa semua menjadi materi result.
Tapi bagi orang timur, Hal yang selalu menjadi konstan adalah wanita tetap memiliki norma dan batasan yang kompleks, untuk menikah di umur sekian. untuk menjadi wanita dengan rasa "isin' yang tinggi. bahwa wanita tidak berhak untuk mengajak seseorang menikah. Isiiinnn....
AH, tanpa sadar aku menjadi sangat feminis gaya kebarat-baratan. Aku tidak suka. aku bukan seorang feminis, Aku humanis.
Lepas dari teori-teori akan norma dan dunia feminis.
Kembali menapaki hari jumat ceria yang kuisi dengan keinginan untuk mengisap icep-icep. sekedar ingin merasa melayang. Sekedar ingin melupakan orang-orang yang menyakitiku. Sekedar ingin melupakan tuntutan-tuntutan tidak tertulis dari dunia ini.
Atau mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi dunia ini. Seolah benar-benar tertekan. Atau memang ini lah yang dirasakan.
Karena mahluk sosial selalu saling memandang sebagai bagian dari interaksi, tanpa sadar tuntutan itu karena interaksi sosial untuk menjadi equal dengan yang lain. Padahal mungkin tidak harus.
Hidupku yang begini mungkin indah. Apa yang salah? selain kesalahan kegagalan pernikahan orang tua. Unprotected daughter, abandoned sister, selain itu tidak ada yang lebih buruk?
Atau ekspektasi dalam otakku yang sudah mulai buram. Keinginan random akan sesuatu - seseorang- menjadikan aku seolah-olah burung piit yang berharap menjadi elang. elang itu memakan mangsa yang besar. Sehingga ia ditakuti.
Ah, Ya. Mungkin aku butuh suatu eksistensi di dunia ini sebagai seseorang. Namun bukan sebagai pegawai konsultan yang mangut-mangut. Aku memiliki ekspektasi menjadi bebas dan be leader. tapi langkahku terlalu kecil kecil, berjinjit dan lama.
Ah, ya. Mungkin aku terlalu pengkhayal. Berharap ada lelaki super yang akan melindungiku karena bahkan yang seluruh anak di dunia ini memanggil papa, aku tidak kenal. aku tidak merasakan.
Track record kehidupan yang buruk, pergantian kerja yang terlalu sering, cita-cita yang absurd, passion menulis yang tidak tersalurkan. Berjalan sesuai arus itu tidak selalu bagus.
Aku lenyap, aku lenyap dalam arus dunia. Aku hilang tertiup angin seperti pasir di bibir pantai. aku hanya akan hilang tanpa jejak dalam hati siapapun.
Lalu ketika jiwa ini benar-benar tertidur, akankah aku menjadi seseorang dalam hati seseorang? atau mungkin bisakah aku berharap menjadi sebuah ukiran besar dalam jantung dunia dan seluruh dunia bisa tahu siapa aku.
Bagaimana mereka mengenal aku? Bagaimana aku akan meninggalkan jejak.....
Seperti biasa, yang kelabu dariku adalah keabsurdan pemikiranku. Biarlah dunia tidak mengerti, aku tidak membuat mereka mengerti.... aku butuh aku menemukan diriku, yang utuh....
Sebenarnya, hari ini adalah yellow friday dengan blue feeling. Tidur terlalu larut semalam. Pukul 02.00 dini hari yang kuingat. setelah menerima telepon dari seseorang. Hatiku menjadi sebuah lingkaran kelabu yang pekat.
Yang kuingat sebelum tertidur selarut itu kupandangi kipas angin yang berputar melambat. Mungkin kipas angin itu sudah terlalu lelah berputar pada poros yang sama setiap hari. Begitu juga denganku. Ada yang salah dengan pijakanku ini. Entah apa. selalu tidak sadar apa yang aku rasakan dan aku pikirkan.
Menurut orang sifat introvertku berbahaya. Beberapa ada yang menganggap bahwa aku adalah sanguiist, orang yang extrovert dan ceria. Itu bohong besar. Yang benar Im acting as if....
Seseorang mendukungku untuk tetap menulis, bergaya feminim. Apa yang bagus dari bergaya feminim? Menjadi feminim awalnya tidak pernah menjadi tujuanku. I always claim me as casual woman. Selalu apa adanya, bahkan jika norma tak melarangku aku akan berjalan dengan selembar kain murah terlilit asal ditubuhku dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi menjadi feminin adalah tuntutan dunia yang terlalu kejam. Untuk menjadi seseorang yang diekspektasikan oleh banyak pria dan tuntutan kultur timur yang kemayu. Belum lagi kebutuhan untuk segera menggaet pasangan untuk bersanding dalam sebuah ikatan pernikahan.
Ah, terlalu mahal hidup ini. Sehingga aku tidak tahu umtuk menjadi sederhana. Tidak. Aku menangis karena aku memiliki ketakutan besar bahwa tidak ada yang akan menerima aku yang utuh lengkap dengan diriku sendiri, Manja, selfish, but full of empathize. Kekurangan tidak akan pernah menjadi kelebihan.
Sampai hari ini. Pencarian akan diri sendiri yang hilang ini masih tetap tidak utuh. Seperti merangkai puzzle gambar diri sendiri. Ini adsalah pencarian yang melelahkan.
Aku tidak pernah menyangka akan berpikir seperti ini : Bahwa menjadi mandiri itu mungkin menjadi sendiri. Aku tidak merasa bangga atau senang menjadi mandiri. Aku tidak mau menjadi sendiri. Aku ingin tertawa, menangis, dan merasakan dilindungi oleh seseorang.
Setelah kehilangan kakakku aku tidak tahu ada pria yang secara tulus tanpa embel-embel untuk tetap melindungiku sebagaimana seharusnya pria melindungi wanita.
tapi ini bukan sebuah tulisan melancholic dari seorang wanita seperti aku. Tidak pantas. Aku yang mengukur ketidakpantasan ini. Bagiku seharusnya tulisan ini menjadi jejak yang tetap hidup menggambarkan kehidupan pasca abad 21. Bahwa dunia semakin menggila. Bahwa mata semakin kabur. Bahwa tidak ada cinta yang menggebu-gebu, Bahwa semua menjadi materi result.
Tapi bagi orang timur, Hal yang selalu menjadi konstan adalah wanita tetap memiliki norma dan batasan yang kompleks, untuk menikah di umur sekian. untuk menjadi wanita dengan rasa "isin' yang tinggi. bahwa wanita tidak berhak untuk mengajak seseorang menikah. Isiiinnn....
AH, tanpa sadar aku menjadi sangat feminis gaya kebarat-baratan. Aku tidak suka. aku bukan seorang feminis, Aku humanis.
Lepas dari teori-teori akan norma dan dunia feminis.
Kembali menapaki hari jumat ceria yang kuisi dengan keinginan untuk mengisap icep-icep. sekedar ingin merasa melayang. Sekedar ingin melupakan orang-orang yang menyakitiku. Sekedar ingin melupakan tuntutan-tuntutan tidak tertulis dari dunia ini.
Atau mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi dunia ini. Seolah benar-benar tertekan. Atau memang ini lah yang dirasakan.
Karena mahluk sosial selalu saling memandang sebagai bagian dari interaksi, tanpa sadar tuntutan itu karena interaksi sosial untuk menjadi equal dengan yang lain. Padahal mungkin tidak harus.
Hidupku yang begini mungkin indah. Apa yang salah? selain kesalahan kegagalan pernikahan orang tua. Unprotected daughter, abandoned sister, selain itu tidak ada yang lebih buruk?
Atau ekspektasi dalam otakku yang sudah mulai buram. Keinginan random akan sesuatu - seseorang- menjadikan aku seolah-olah burung piit yang berharap menjadi elang. elang itu memakan mangsa yang besar. Sehingga ia ditakuti.
Ah, Ya. Mungkin aku butuh suatu eksistensi di dunia ini sebagai seseorang. Namun bukan sebagai pegawai konsultan yang mangut-mangut. Aku memiliki ekspektasi menjadi bebas dan be leader. tapi langkahku terlalu kecil kecil, berjinjit dan lama.
Ah, ya. Mungkin aku terlalu pengkhayal. Berharap ada lelaki super yang akan melindungiku karena bahkan yang seluruh anak di dunia ini memanggil papa, aku tidak kenal. aku tidak merasakan.
Track record kehidupan yang buruk, pergantian kerja yang terlalu sering, cita-cita yang absurd, passion menulis yang tidak tersalurkan. Berjalan sesuai arus itu tidak selalu bagus.
Aku lenyap, aku lenyap dalam arus dunia. Aku hilang tertiup angin seperti pasir di bibir pantai. aku hanya akan hilang tanpa jejak dalam hati siapapun.
Lalu ketika jiwa ini benar-benar tertidur, akankah aku menjadi seseorang dalam hati seseorang? atau mungkin bisakah aku berharap menjadi sebuah ukiran besar dalam jantung dunia dan seluruh dunia bisa tahu siapa aku.
Bagaimana mereka mengenal aku? Bagaimana aku akan meninggalkan jejak.....
Seperti biasa, yang kelabu dariku adalah keabsurdan pemikiranku. Biarlah dunia tidak mengerti, aku tidak membuat mereka mengerti.... aku butuh aku menemukan diriku, yang utuh....
Rabu, 08 Mei 2013
More Than 25
8 May 2013,
Tahun yang penuh dengan kejutan. Bahkan hingga detik ini aku masih tidak bisa memahami mengapa aku masih hidup. Seakan Tuhan sedang menyetel kehidupanku dengan kecepatan tinggi dalam jalan kota yang padat. Being pushed to avoid the crash with others. Bertemu banyak orang-orang baru yang 'unik'. Membuatku berjaga-jaga seolah-olah mereka akan menyakitiku, seperti yang orang terdahulu....
Melangkah menuju angka yang lebih besar. Berat badan yang melesat jauh. Langkah-langkah yang segera. Tidak sempat untuk aku untuk banyak berpikir. Maka hari ini, sebelum hari itu, aku meminta ijin pada dunia untuk berpikir apa yang sudah aku lontarkan dan putuskan kemarin benar-benar yang aku butuhkan untuk membangun masa depanku. Atau aku hanya makhluk yang gegabah membuat keputusan.
Ini seperti renungan panjang yang memuusingkan kepalaku, menegangkan otot leherku, membekukab aliran darahku, dan menggelapkan pandanganku. aku harus melihat cahaya....
Di tengah kesendirian. Yang datang dan menganggapku sebagai miliknya tanpa menunggu persetujuanku. Yang datang dan menghilang. lebih banyak yang datang dan aku tidak mengerti apa yang diinginkannya dari diriku. Aku hanya tersenyum dan membuka telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan keluhan mereka - the strangers- namun aku sungguh menghargai kepercayaan mereka untuk membagi hidup mereka padaku meski aku sesungguhnya sendiri belum bisa membagi apapun dalam hidupku.
Dalam angka yang akan segera menggendut dalam sel-selku secara biologis. Merasa kembali kesepian, secara fisik dan dalam. Tidak ada dalam kerumunan dan tidak ada dalam bagian dari siapapun di dunia ini. Menjadi bagian hidup ibuku selamanya, mungkin itu. namun terkadang, terasa sepi. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Ingin melepaskan semua. And free to go. tapi aku bagian dari ibuku.
Langit mendung. Petir yang menyambar-nyambar. Pekak pada telinga. Aku tetap merasa sepi. Ingin menghilangkan pikiran skeptis dari dalam otakku. yang ada hanyalah gema panggilan itu "namaku nurita" :namaku nurita" :namaku nurita" selalu terulang dalam telingaku, pikiranku berbicara. Memandang ibuku yang kesepian membuat kepalaku semakin ingin pecah, seandainya memang bisa. Dia menjadi gambaran kesepianku. Betapa aku tidak bisa membuat jalan bahkan untuk diriku sendiri. Jauh keberhasilanku dari kenyataan. Apa yang bisa aku hasilkan hingga usiaku sekarang. Dan sebentar lagi angka itu semakin menggendut.
Mimpi-mimpi yang sama. Hadir mimpi-mimpi yang sama setiap malam. Kekecewaan yang terlalu masuk ke dalam pikiranku. Aku ingin lepas, dari mimpi-mimpi itu. Dari tipuan duniawi, Tuhan, Yaa Rabb, hilangkan keinginan-keinginan yang tidak perlu, yang tidak mampu aku penuhi. Ingin pasrah, tidak mencari jalan keluar dari semua ini. Tidak ingin mencari, hanya ingin berjalan. menuju cahaya itu. Tapi aku bagian dari ibuku. Mimpinya bagian dari tujuanku. Mewujudkannya adalah keharusanku. Dan aku begitu lelah. Terlalu lelah dan kesepian.
Sebentar lagi, aku akan benar-benar kesepian. Ketika satu per satu teman-temanku menemukan jalannya, satu per satu saudara-saudaraku menemukan rumahnya. Dan ibuku semakin menua. Jika aku tidak bisa berlari lalu hanya berjalan cepat, maka semua itu memang akan benar-benar terjadi. Tapi apakah aku harus menurunkan segala habitku dan prinsip hidupku hanya demi memenuhi keinginan dunia?
Perlukah aku mengemis kebahagiaan?
Sementara aku yakin kebahagian bukan diberikan dari seseorang. kebahagian itu ada dalam kerumitan otakku, yang terselip, entah bagaimana, di tengah-tengah terpaan scene-scene hidup yang harus aku jalani.
Mengapa sepi sekali. Hanya ada lantunan lagu dari sini. Tidak sanggup menangis. Tidak sanggup. Tapi aku sungguh ingin tertawa. Entah mengapa. Mengenang masa lalu, terkadang menyenangkan. Tersanjung dan tertawa. Tapi kembali ke masa ini, nanar menatap dan tertawa. Setelah kehilangan terakhir itu....
Masih mempertanyakan : Mengapa sepi sekali di sini?
Tahun yang penuh dengan kejutan. Bahkan hingga detik ini aku masih tidak bisa memahami mengapa aku masih hidup. Seakan Tuhan sedang menyetel kehidupanku dengan kecepatan tinggi dalam jalan kota yang padat. Being pushed to avoid the crash with others. Bertemu banyak orang-orang baru yang 'unik'. Membuatku berjaga-jaga seolah-olah mereka akan menyakitiku, seperti yang orang terdahulu....
Melangkah menuju angka yang lebih besar. Berat badan yang melesat jauh. Langkah-langkah yang segera. Tidak sempat untuk aku untuk banyak berpikir. Maka hari ini, sebelum hari itu, aku meminta ijin pada dunia untuk berpikir apa yang sudah aku lontarkan dan putuskan kemarin benar-benar yang aku butuhkan untuk membangun masa depanku. Atau aku hanya makhluk yang gegabah membuat keputusan.
Ini seperti renungan panjang yang memuusingkan kepalaku, menegangkan otot leherku, membekukab aliran darahku, dan menggelapkan pandanganku. aku harus melihat cahaya....
Di tengah kesendirian. Yang datang dan menganggapku sebagai miliknya tanpa menunggu persetujuanku. Yang datang dan menghilang. lebih banyak yang datang dan aku tidak mengerti apa yang diinginkannya dari diriku. Aku hanya tersenyum dan membuka telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan keluhan mereka - the strangers- namun aku sungguh menghargai kepercayaan mereka untuk membagi hidup mereka padaku meski aku sesungguhnya sendiri belum bisa membagi apapun dalam hidupku.
Dalam angka yang akan segera menggendut dalam sel-selku secara biologis. Merasa kembali kesepian, secara fisik dan dalam. Tidak ada dalam kerumunan dan tidak ada dalam bagian dari siapapun di dunia ini. Menjadi bagian hidup ibuku selamanya, mungkin itu. namun terkadang, terasa sepi. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Sepi. Kosong. Ingin melepaskan semua. And free to go. tapi aku bagian dari ibuku.
Langit mendung. Petir yang menyambar-nyambar. Pekak pada telinga. Aku tetap merasa sepi. Ingin menghilangkan pikiran skeptis dari dalam otakku. yang ada hanyalah gema panggilan itu "namaku nurita" :namaku nurita" :namaku nurita" selalu terulang dalam telingaku, pikiranku berbicara. Memandang ibuku yang kesepian membuat kepalaku semakin ingin pecah, seandainya memang bisa. Dia menjadi gambaran kesepianku. Betapa aku tidak bisa membuat jalan bahkan untuk diriku sendiri. Jauh keberhasilanku dari kenyataan. Apa yang bisa aku hasilkan hingga usiaku sekarang. Dan sebentar lagi angka itu semakin menggendut.
Mimpi-mimpi yang sama. Hadir mimpi-mimpi yang sama setiap malam. Kekecewaan yang terlalu masuk ke dalam pikiranku. Aku ingin lepas, dari mimpi-mimpi itu. Dari tipuan duniawi, Tuhan, Yaa Rabb, hilangkan keinginan-keinginan yang tidak perlu, yang tidak mampu aku penuhi. Ingin pasrah, tidak mencari jalan keluar dari semua ini. Tidak ingin mencari, hanya ingin berjalan. menuju cahaya itu. Tapi aku bagian dari ibuku. Mimpinya bagian dari tujuanku. Mewujudkannya adalah keharusanku. Dan aku begitu lelah. Terlalu lelah dan kesepian.
Sebentar lagi, aku akan benar-benar kesepian. Ketika satu per satu teman-temanku menemukan jalannya, satu per satu saudara-saudaraku menemukan rumahnya. Dan ibuku semakin menua. Jika aku tidak bisa berlari lalu hanya berjalan cepat, maka semua itu memang akan benar-benar terjadi. Tapi apakah aku harus menurunkan segala habitku dan prinsip hidupku hanya demi memenuhi keinginan dunia?
Perlukah aku mengemis kebahagiaan?
Sementara aku yakin kebahagian bukan diberikan dari seseorang. kebahagian itu ada dalam kerumitan otakku, yang terselip, entah bagaimana, di tengah-tengah terpaan scene-scene hidup yang harus aku jalani.
Mengapa sepi sekali. Hanya ada lantunan lagu dari sini. Tidak sanggup menangis. Tidak sanggup. Tapi aku sungguh ingin tertawa. Entah mengapa. Mengenang masa lalu, terkadang menyenangkan. Tersanjung dan tertawa. Tapi kembali ke masa ini, nanar menatap dan tertawa. Setelah kehilangan terakhir itu....
Masih mempertanyakan : Mengapa sepi sekali di sini?
Kamis, 14 Maret 2013
Menjejaki hari ini
Dengan diiringi lagu Kenny G-Forever in Love.
Pagi ini, menjadi salah satu kumpulan pagi yang biasa-biasa saja. Bangun, memandang langit-langit, menoleh ke samping kiriku, melempar senyum pada piggy pink yang bergeming dalam diam dan ekspresi yang sama setiap detik setiap kalinya kupandangi. Hanya saja... kali ini tidak ada yang hilang, karena tidak ada yang dimiliki. tidak ada perasaan sakit yang menyesak dalam dadaku, yang membuat saya harus menahan napas. Tidak ada perasaan gentar, jika seseorang akan memberi berita buruk pada aku, karena saya tengah pada perasaan tidak memiliki apapun (siapapun). Saya hanya memiliki pekerjaan dan waktu untuk bekerja. yang saya punya mama dan pekerjaan saya saat ini.
Selalu setiap pagi di setiap hari-hari kerja saya, yang saya miliki hanyalah waktu untuk bekerja, tidak untuk aku habiskan menginginkan seseorang. Menerka mungkin. Menerka siapa dia, siapa dia, siapa dia...
Yang nanti akan menganggapku istimewa, sebagai ratu dalan kehidupannya. Mungkin hanya sebatas menerka tapi tidak sampai penasaran.
Pagi. Ponsel.... beberapa minggu di bulan februari lebih banyak aku abaikan ponsel pintar ini. Entah sejak kapan aku kembali terikat dengan ponsel ini lagi. Mungkin sejak obrolan pendek yang menjadi berbuah. Atau mungkin kehadiran banyak orang dari ponselku menjadi sebuah realita, mengalihkan sesaat kekosongan tanpa kehilangan ini. Tapi masih tidak pernah aku bisa bayangkan mereka akan menjadi bagian dari cerita pendewasaanku.
Menjejaki hari ini...
Pergi Ke Jakarta. entah untuk pekerjaan yang tidak aku mengerti, tapi pura-pura kupahami. Mencoba menelaah apa yang ada di hadapanku. Selalu bertanya apakah ini yang aku inginkan atau yang lebih mendasar.... inikah yang aku butuhkan.
Bukan suasana segar di luar sana. bertemu banyak orang, tidak menjadi terikat untuk bersikap selalu seperti yang mereka mau. Menjadi banyak tertawa membantuku menyelami mereka, tapi tidak menyelami diriku. aku tetap masih tidak menemukan diriku.
Mereka yang mendekat dan mereka yang menjauh. Mereka yang kadang hadir dan kadang tidak ada.
Menjajaki hari ini....
Masih mencoba memahami apa yang terjadi. Dan apa yang mereka inginkan dariku.
Lagunya sudah berubah judul... Hahahaha...
Dengan diiringi Kenny G- Innocence....
Wajah-wajah asing itu, mereka bukan dari masa laluku, tapi aku juga tidak tahu akan menjadi masa depanku.
Yang pasti piggy pink itu selalu ada dengan moncongnya dan ekspresi yang sama setiap aku terbangun pagi dan menoleh padanya.
Langit semakin tidak karuan. Bukan salah langit. Mungkin mataku yang semakin siwer.
Dulu senang rasanya menjadi bagian dari bintang. tersenyum memandangi bintang dan langit yang relatif bersih di bandung....
Titimplik....jalan kecil yang menjadi saksi perjalanan hidupku.
Masih mempertanyakan sulitnya hati mamah...yang masih....tidak bisa menerima kenyataan adanya aku seperti ini....
Menurut seseorang aku ini overanalyze, terlalu template taurus. Mungkin benar juga menurutnya. tapi jika merujuk pada ruang historis yang aku punya semua itu tampak lebih masuk akal dan beralasan. dengan bagaimana banyak yang hilang. Mengatakan "kecewa" mungkin terlalu baik untukku. aku mungkin cukup pantas dengan tak senang hati.
Kalut setiap ditanya soal keluarga, cukup tertawa saja bukan? ternyata ada yang lebih semerawut dariku.
Ini sih bukan salah aku, lagunya ternyata udah ganti lagi .. Kenny G-Sentimentil
Pantas saja aku jadi sentimentil, :))))
Banyak tertawa. Entah menertawakan apa... menertawakan nasibku yang tidak menjadi istimewa bagi siapapun. Ahh..kuralat...aku istimewa untuk mamah....terlalu istimewa....asset yang beberapa orang katakan berharga tapi sesungguhnya menyulitkan hatinya juga.
Bolehkah aku pinjam kata "kecewa"? Meski tidak pantas?
Ya mamah...penuh dengan kekecewaan. Sejak dari aku tidak mengerti kecewa itu hingga aku sekarang puas sekali memahami kecewa. Aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku. banyak sekali komentar negatif darinya. Aku ini dididik bagaimana. Aku sudah tidak ingat lagi. Yang pasti, sekarang banyak hal yang aku lakukan menjadi salah di matanya. Bahkan aku terkadang dianggap tidak menghargai dan menghormatinya.
Kulit kepalaku sampai sakit kugaruk terus dan terus. Tidak gatal tapi rasa gugup ketika diomeli beliau membuat tanganku tanpa sadar menggaruk kepalaku, jika tidak kugigit jari tanganku sendiri. Haruskah aku bertekuk lutut di hadapannya? Sesalah itukah aku?sesalah itukah jalan kehidupanku?
Oke Kenny G Play silhouette for me...
Sebagai akhir dar menjejaki hari ini....
Malam yang cukup anyep di kota besar tanpa kipas angin yang menyala. terpaksa tidur dengan kipas tangan. Berusaha menjadi yang terbaik untuk esok hari. Tak perlu penghargaan, cukup doa dan kelancaran.
Selamat malam mamah di bandung.
Selamat malam aa yudi ariefiansyah.. (really miss miss miss missing you so so so much)
Selamat malam 'ni toto siti aisyah
Selamat malam 'ngki (kurindukan timangan darimu, sebagai pengganti lara tanpa sayang ayah)
Malam ini menjadi akhir penjejakan hari ini.
Esok menjadi penjejakan baru tanpa kutahu akhirnya bagaimana. Doakan aku Universe biarkan bumi memeluku dengan hangat dan matahari menyinariku dengan lembut.... :)
Nice to see you tomorrow, world!
Pagi ini, menjadi salah satu kumpulan pagi yang biasa-biasa saja. Bangun, memandang langit-langit, menoleh ke samping kiriku, melempar senyum pada piggy pink yang bergeming dalam diam dan ekspresi yang sama setiap detik setiap kalinya kupandangi. Hanya saja... kali ini tidak ada yang hilang, karena tidak ada yang dimiliki. tidak ada perasaan sakit yang menyesak dalam dadaku, yang membuat saya harus menahan napas. Tidak ada perasaan gentar, jika seseorang akan memberi berita buruk pada aku, karena saya tengah pada perasaan tidak memiliki apapun (siapapun). Saya hanya memiliki pekerjaan dan waktu untuk bekerja. yang saya punya mama dan pekerjaan saya saat ini.
Selalu setiap pagi di setiap hari-hari kerja saya, yang saya miliki hanyalah waktu untuk bekerja, tidak untuk aku habiskan menginginkan seseorang. Menerka mungkin. Menerka siapa dia, siapa dia, siapa dia...
Yang nanti akan menganggapku istimewa, sebagai ratu dalan kehidupannya. Mungkin hanya sebatas menerka tapi tidak sampai penasaran.
Pagi. Ponsel.... beberapa minggu di bulan februari lebih banyak aku abaikan ponsel pintar ini. Entah sejak kapan aku kembali terikat dengan ponsel ini lagi. Mungkin sejak obrolan pendek yang menjadi berbuah. Atau mungkin kehadiran banyak orang dari ponselku menjadi sebuah realita, mengalihkan sesaat kekosongan tanpa kehilangan ini. Tapi masih tidak pernah aku bisa bayangkan mereka akan menjadi bagian dari cerita pendewasaanku.
Menjejaki hari ini...
Pergi Ke Jakarta. entah untuk pekerjaan yang tidak aku mengerti, tapi pura-pura kupahami. Mencoba menelaah apa yang ada di hadapanku. Selalu bertanya apakah ini yang aku inginkan atau yang lebih mendasar.... inikah yang aku butuhkan.
Bukan suasana segar di luar sana. bertemu banyak orang, tidak menjadi terikat untuk bersikap selalu seperti yang mereka mau. Menjadi banyak tertawa membantuku menyelami mereka, tapi tidak menyelami diriku. aku tetap masih tidak menemukan diriku.
Mereka yang mendekat dan mereka yang menjauh. Mereka yang kadang hadir dan kadang tidak ada.
Menjajaki hari ini....
Masih mencoba memahami apa yang terjadi. Dan apa yang mereka inginkan dariku.
Lagunya sudah berubah judul... Hahahaha...
Dengan diiringi Kenny G- Innocence....
Wajah-wajah asing itu, mereka bukan dari masa laluku, tapi aku juga tidak tahu akan menjadi masa depanku.
Yang pasti piggy pink itu selalu ada dengan moncongnya dan ekspresi yang sama setiap aku terbangun pagi dan menoleh padanya.
Langit semakin tidak karuan. Bukan salah langit. Mungkin mataku yang semakin siwer.
Dulu senang rasanya menjadi bagian dari bintang. tersenyum memandangi bintang dan langit yang relatif bersih di bandung....
Titimplik....jalan kecil yang menjadi saksi perjalanan hidupku.
Masih mempertanyakan sulitnya hati mamah...yang masih....tidak bisa menerima kenyataan adanya aku seperti ini....
Menurut seseorang aku ini overanalyze, terlalu template taurus. Mungkin benar juga menurutnya. tapi jika merujuk pada ruang historis yang aku punya semua itu tampak lebih masuk akal dan beralasan. dengan bagaimana banyak yang hilang. Mengatakan "kecewa" mungkin terlalu baik untukku. aku mungkin cukup pantas dengan tak senang hati.
Kalut setiap ditanya soal keluarga, cukup tertawa saja bukan? ternyata ada yang lebih semerawut dariku.
Ini sih bukan salah aku, lagunya ternyata udah ganti lagi .. Kenny G-Sentimentil
Pantas saja aku jadi sentimentil, :))))
Banyak tertawa. Entah menertawakan apa... menertawakan nasibku yang tidak menjadi istimewa bagi siapapun. Ahh..kuralat...aku istimewa untuk mamah....terlalu istimewa....asset yang beberapa orang katakan berharga tapi sesungguhnya menyulitkan hatinya juga.
Bolehkah aku pinjam kata "kecewa"? Meski tidak pantas?
Ya mamah...penuh dengan kekecewaan. Sejak dari aku tidak mengerti kecewa itu hingga aku sekarang puas sekali memahami kecewa. Aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku. banyak sekali komentar negatif darinya. Aku ini dididik bagaimana. Aku sudah tidak ingat lagi. Yang pasti, sekarang banyak hal yang aku lakukan menjadi salah di matanya. Bahkan aku terkadang dianggap tidak menghargai dan menghormatinya.
Kulit kepalaku sampai sakit kugaruk terus dan terus. Tidak gatal tapi rasa gugup ketika diomeli beliau membuat tanganku tanpa sadar menggaruk kepalaku, jika tidak kugigit jari tanganku sendiri. Haruskah aku bertekuk lutut di hadapannya? Sesalah itukah aku?sesalah itukah jalan kehidupanku?
Oke Kenny G Play silhouette for me...
Sebagai akhir dar menjejaki hari ini....
Malam yang cukup anyep di kota besar tanpa kipas angin yang menyala. terpaksa tidur dengan kipas tangan. Berusaha menjadi yang terbaik untuk esok hari. Tak perlu penghargaan, cukup doa dan kelancaran.
Selamat malam mamah di bandung.
Selamat malam aa yudi ariefiansyah.. (really miss miss miss missing you so so so much)
Selamat malam 'ni toto siti aisyah
Selamat malam 'ngki (kurindukan timangan darimu, sebagai pengganti lara tanpa sayang ayah)
Malam ini menjadi akhir penjejakan hari ini.
Esok menjadi penjejakan baru tanpa kutahu akhirnya bagaimana. Doakan aku Universe biarkan bumi memeluku dengan hangat dan matahari menyinariku dengan lembut.... :)
Nice to see you tomorrow, world!
Minggu, 10 Maret 2013
ke sepuluh
hari ke-10 di bulan Maret ini,
beberapa jam ke belakang: aku iseng membuka facebook pria itu lagi. sudah tidak ada lagi rasa sakit itu. glad. entah dari mana asal tawa ini. tapi ringan dan tenang. tawa yang muncul dari kerongkongan dan pita suaraku. rasanya senang bisa melewatinya. mungkin ini merupakan air dengan gelombang yang lebih tenang, setelah melewati gelombang pasang di tengah lautan luas. mungkin aku belum bisa menemukan pulau itu, masih ada dahaga. masih terasa di kerongkongan. namun aku yakin akan bertahan hingga akhir cerita ini. tidak lagi ada pikiran untuk mengakhiri yang belum ditakdirkan berakhir.
Zikir itu yang menyelamatkanku. Tuhanku yang menyelamatkanku, selalu.
Hingga hari ini... aku masih dalam euforiaku, tentang kehidupan 3 bulan terakhir. Pertemuan dengan orang-orang baru yang memberi warna dalam cerita. mereka lebih dari berharga untuk aku lewatkan. mereka, yang memiliki cerita dalam kehidupannya. hadir ketika kehidupanku hancur, cukup hancur aku rasa. karena kegagalan ini hanya kegagalan untukku, sementara mereka diantaranya merasakan kegagalan yang membuat mereka harus lari. Mungkin ini bukan cinta. tapi aku sungguh menyayangi kondisi ini, kesendirian ini, kebebasan ini. melangkah kepada siapa saja yang ada di hadapanku. bukan untuk memilih tapi untuk selangkah lebih dekat dengan takdir yang Tuhan sedang kasih padaku.
Good weather. Good people.
ada mereka yang datang dari masa lalu. beberapa datang dari masa depan. dan kita bertemu dalam masa kini untuk sama-sama berjalan pada masa depan. mungkin tidak semua akan terbawa dalam masa depanku, tapi satu hal kita semua akan menemui masa depan itu. bersama-sama, atau tidak.
Say hi to people who make me wait....
see you in the edge.
Sometimes i.. so curious about who he is. My future. but i choose to wait and calm... enjoy the time with good people around.. :)
Good weather, good people.
Love you my brother (yudi tablo)
Love you nki' & nini (wirapradja)
me with mom decide to face this war....
Senin, 14 Januari 2013
05:55 PM
Hari ini akhirnya aku menyerah. Duduk sendiri di salah satu meja foodcourt (tanpa colokan listrik dan berarti jika laptop ini habis batre habis sudah yang menemaniku). Sambil menunggu adzan, entah apa yang terjadi hari ini, dimulai dari bangun pagi dengan mengigau, jantung berdegup terlalu lambat, sesak napas, sampai suasana senyap di sekitarku, oh, tunggu, bukan dari luar diriku senyap itu, itu senyap yang muncul dari dalam diriku. Tangis yang mereda bukan karena sudah tak ingin, tapi tak bisa. Entah apa, selalu entah mengapa.
Baiklah kali ini mungkin aku akan membahas mengenai Judul blog ku, "FLA VANILA". Ya Fla Vanilla. Mengapa aku menamai blog ini dengan nama itu. Hal yang terlintas pertama adalah sebuah puding coklat manis yang sederhana dengan saos fla di atasnya, manis. Ya, Manis. itu lah kata kuncinya. Fla vanilla yang putih susu itu sangat menggiurkan bagiku, aku selalu tergoda untuk mencicipi puding. Puding dessert favoritku sepanjang hidupku hingga sekarang. DItambah fla Vanilla kental di atasnya yang menambah manis rasa puding. ummm Yummmy. Di balik itu, aku selalu ingin menjadi fla vanilla, yang manis, dan menggiurkan. Aku ingin menjadi seperti fla vanilla. Aku ingin hidupku akhirnya manis dan indah. Kesulitan itu datang sejak kecil. Entahlah, sejak terlahir, itulah takdirnya, dan aku tidak menyesal. Paling tidak aku berusaha.
Berusaha. Itulah yang sejak dulu harus aku lakukan, tidak ada yang benar-benar mudah aku dapatkan sejauh ini.
Dalam segi apapun,tapi Tuhanku tidak mempersulit pula, hanya memberi sebuah liku dalam perjalanan. Terkadang aku lelah, seolah hidup terlalu panjang. Melihat ke belakang selalu membuatku sepi.
Di sini, hampir semua meja di sekitarku diisi oleh pasangan-pasangan. Menyenangkannya mereka. Saat seperti ini, aku tidak berani mengandalkan teman-temanku, selalu menyusahkan mereka dengan curhat-curhat tidak bermutu, hanya membuat kuping mereka bosan, dan lidah mereka apatis untuk berkomentar. Kali ini aku harus berani menghadapi sendiri, seperti pelayan-pelayan yang lalu lalang di sekitar ku mencoba mencari peruntungan menawarkan menu dari dagangan-dagangannya. Aku memang tercipta menjadi a fighter. Seorang yang berjuang. Kebahagiaan itu ada di depan sana. entah berapa mile lagi.
Dulu aku pikir aku seorang dreamer, aku memimpikan banyak hal di dunia ini. Salah satunya menjadi designer dan keliling dunia. tapi lama kelamaan aku ternyata terjebak dalam sebuah dunia monokrom yang menciptakan jiwaku yang terlalu realistis dan rusak.
aku tidak lagi memiliki angan menjadi "fla vanilla" manis dan menggiurkan. AKu hanya seonggok karyawan kontrak yang biasa saja. disuruh-suruh dan tidak punya wewenang. Auraku buruk sehingga mamah sibuk mencarikan sesuatu untukku. Cinta mamah yang begitu besar, sifatnya yang labil, teman-teman yang senang bergurau dan mau mendengarkan, rasanya aku tidak bisa menghadapi mereka lagi. Mencari cara membahagiakan mereka, tapi berarti aku melanggar prinsipku mengenai kebahagiaan, bahwa jikaingin membahagiakan orang lain maka aku harus terlebih dahulu bahagia. Mungkin ini teori yang salah, mungkin saja, mungkin saja tidak.
MEncari cara untuk menghilang, meninggalkan lembaran-lembaran lama. Orang-orang lama.
Mamah, saudara-saudara, teman-teman, dan selimut kesayanganku. terbang entah kemana, seharusnya, tapi aku masih belum menemukannya, menemukan cara untuk lenyap.
Dulu, aku juga ingin menjadi sebuah inspirasi untuk orang bukan menjadi sebuah benalu dari sebuah komunitas, bukan itu. Menurut mereka, julukan yang tepat buatku adalah si riweuh.
Mereka benar, selalu benar,mmm..mungkin lebih banyak benarnya. Aku pikir aku pintar tapi tidak banyak yang aku tahu, aku pikir aku kuat ternyata hanya segini kemampuanku. Seseorang dari masa laluku datang dan ia berkomentar, aku si autis. Entahlah, kembali aku berujar itu, karena sesuatu pada diriku tidak aku ketahui, yang aku tahu aku tidak autis (means penyendiri). Jika memang ada, aku lebih suka pergi tertawa bersama mereka. tapi waktu mereka sedikit sekali untuk selalu mendampingi aku yang mudah kesepian. Aku sangat mengerti, jauh mengerti jika hidup mereka sudah terbagi dengan masa depan mereka, dengan orang-orang baru di hidup mereka. Tinggal mamah, hanya mamah, dan ia punya harapan besar melihatku berdampingan dengan seseorang secepatnya. tapi justru malah semakin sulit aku menggapai harapan itu. Kembali entah mengapa.
Kamis, 27 September 2012
Senja Untuk Malora
I Bagamana harus aku mulai cerita ini? Memulai cerita tentang sore yang indah di awal desember yang tidak aku ingat. Memulai cerita dari hari sial yang terjadi di pagi hari. Lalu awal apa yang harus aku ceritakan? Tentang cerita-cerita sedih kolokan? Atau kisah cinta yang tidak pernah bisa disadari datang dan perginya?
Mungkin aku tidak tahu mengawali dengan apa, tapi mungkin aku tidak perlu mengawali dengan apapun. Aku tidak sedang menjual ceritaku tentang semangat atau tentang romantisme. Aku manusia bebas yang merasakan, memikirkan, menginginkan, dan menceritakan. Dan mungkin sebaiknya aku bercerita sekenanya dan seenaknya, hingga nanti para sastrawan perlu memprotes kehadiranku di kancah sastra dan pemerintah melarang keras menerbitkan bukuku, dan mungkin juga tidak ada penerbit yang suka menerbitkan tulisan murahan ini.
Namaku Malora. Aku seorang anak manusia. Anak tunggal dan masih menjabat sebagai mahasiswi kupu-kupu –kuliah pulang-kuliah pulang – dan sedang menjalin hubungan dengan mahasiswa angkatan atas. Ibu saya adalah seorang single parent, single fighter, single life, totally single. Pekerjaannya mengaji dan beberapa kegiatan lain yang cukup menguras tenaga. Seorang veteran PNS alias pensiunan. Dulu aku punya seorang kakak laki-laki, seorang, tapi sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan kecil yang fatal melayangkan nyawanya. Keluarga yang kecil ini semakin kecil dan semakin rapuh.
Kata siapa cobaan hidup itu menghasilkan ketegaran yang lebih. Mungkin benar dan mungkin salah. Dalam dunia sekarang yang penuh manipulasi dan keegoisan, aku menyangsikan adanya kemudahan hidup. Tentu saja setiap orang mulai berhalusinasi akan sesuatu yang lebih mudah
Perkara menjadi dewasa dan menjadi tidak egois adalah perkara yang sulit. Hidup yang rumit. Pengalama yang sering kali tidak menyenangkan. Harapan yang terlupakan. Diri yang dilihat setengah mata. Hidup memang tidak mudah. Dunia ini yang tidak mudah. Manusia yang telah terlahir dan dewasalah yang tidak mudah. Mungkin juga peraturan yang tidak mudah. Mengejar mimpi seperti berlari mencari polaris.
Diantara harapan, bertahan hidup, dan ketidakmengertian diri membuatku terjebak dalam setiap rutinitas dan norma-norma yang entah bisa kuterima dengan kesadaran penuh dari hati. Yang kutahu aku harus menjalani ini apapun keadaannya.
Malam ini aku kembali berkutat dengan laptop usang yang kupunya. AH, tidak, laptop inilah yang paling setia menemaniku kemana-mana. Laptop inilah yang menemaniku merangkai kata-kata yang tidak pernah bisa aku ungkapkan dalam lisan. Secangkir kopi susu ABC buatan ibu Janah di warungnya yang sederhana. Siapa bilang ide harus datang dari tempat yang nyaman hening dan luxurious? aku tengah berada dalam sebuah warung kecil milik Pak Sujana. Pak Sujana dan Bu Janah (sebenarnya harusnya Ibu Sujana pula, tapi aku senang memanggilnya BU Jana saja lalu kutambahkan "H" dibelakang agar menggenapi namanya dan lebih enak terdengar, mereka pemilik warung yang sering kudatangi ini. Di sini lah ide lebih sering muncul, di sinilah aku sering mendengarkan cerita-cerita tentang hidup dari Bapak dan ibu sujana, atau bahkan dari para pelanggan setianya yang tidak lebih dari para pekerja kasar di pinggiran kota, tapi mereka sopan, mungkin karena aku juga sopan pada mereka, atau mungkin saja mereka cukup segan dengan Pak Sujana yang selalu menganggapku anaknya.
Malam ini warung ini cukup sepi dibandingkan malam-malam biasanya. Hanya ada aku bu Janah dan Mang Rojak satpam dari Gedung dekat sini. Mang Rojak sedang bercerita tentang rencana buruh-buruh yang akan mendemo senin depan, ketika mama meneleponku menanyakan dimana aku berada. aku selalu menjawab berada di tempat lain tidak di tempat ini. Nada suaranya selalu seperti sedang kesal, padahal pertanyaannya hanyalah pertanyaan simpel yang seharusnya tidak membawa moodku jatuh terperosok. Aku tidak tahu apa yang salah pada setiap hari-harinya. Mungkin juga tidak mau tahu. Seharusnya pengajian membuatnya lebih tenang dan bahagia, tapi mungkin itu saja tidak cukup baginya. Ah, mama...
Aku kembali mendengarkan Mang Rojak yang bercerita dengan menggebu-gebu sambil terus menyeruput kopi susunya plus mie rebus telor buatan yang masih mengepul. AKu menyunggingkan senyum setiap kali dia memalingkan wajahnya padaku, seolah mengajakku turut serta dalam percakapannya dengan Bu Janah. Aku memperhatikan mimik Bu Janah yang selalu tampak antusias mendengarkan orang berbicara padanya. Dia adalah sosok ibu-ibu yang nrimo, tenang, dan tidak neko-neko, ya barangkali tidak ada pula yang bisa beliau neko-neko-i. Menikah dengan Pak Sujana dan hidup susah payah di kota besar ini dengan keempat anaknya yang sempat terpencar-pencar karena saking sulitnya mereka hidup.
Bu Janah pernah sedikit bercerita tentang kehidupannya sebelum membuka warung ini. Beliau jarang sekali bercerita. Pak Suj lebih banyak bercerita, beliau lebih cerewet dan senang sekali bercerita. Sangat bertolak belakang dengan Bu Janah yang bercerita sedikit dan jarang. Tapi aku suka dengan caranya tersenyum dan menatapku, seolah bumi hangat dan tidak semenyedihkan yang kurasakan di luar sana. Begitu pun caranya bercerita, sangat tenang dan hampir tanpa emosi. Beliau bercerita, ketika dirinya dan Pak Suj akhirnya memutuskan urbanisasi ke kota besar dan dengan berat hati harus memilih salah satu anaknya yang ikut serta pergi. Sisanya, beliau harus menitipkan pada neneknya dan adiknya Pak Suj yang cukup mampu menampung ketiga anak mereka.
Hidup itu adalah pilihan. Begitu kata orang bijak. Memang pilihan. Dan pilihan itu adalah pilihan-pilihan sulit yang harus,mau tak mau, dipilih dan dijalani. seperti kepiluan yang harus dibayar ketika mama harus memilih membiarkan kakakku lepas darinya atau mengusahakan dirinya tetap hidup meski tahu akan menyulitkan hidup kakakku jika dia dipaksa untuk bertahan dengan hanya mengandalkan alat-alat medis itu...
Kakakku...
Label:
Cerber. 2012,
contoh cerber,
keluarga,
membaca,
renungan,
senja
| Reaksi: |
Langganan:
Entri (Atom)